MENELURKAN EXTENDED PLAY PADA MASA PANDEMI!

Tahun 2020 adalah tahun penghambat semua lini. Sektor pariwisata, birokrasi, tempat hiburan dan lainnya (walaupun ada beberapa lini masih tetap bekerja dirumah) menjadi terhambat, tetapi sektor industri kreatif masih berjalan sangat lancar. Banyak para musisi membuat karya yang canggih pada masa pandemi ini. Tidak hanya membuat single baru, ada juga yang merilis mini album, bahkan merilis album penuh. Masa pandemi ini bukan suatu keluhan bagi para musisi seluruh dunia salah satunya LILY OF THE VALLEY. Band yang mengusung jenis musik post-rock beranggotakan lima orang diantaranya ada Baihaki Sifa (vokal dan gitar), Komang Tri Lugiantara (bass), Ijlal Faiz (lead gitar), Roy Khun Thawin (drum) dan Andra Andree (synth/keyboard dan backing vokal). Sebelum mereka menelurkan Extended Play, mereka mengeluarkan lagu berjudul”I Saw You” pada tahun 2016 dan lagukedua berjudul ”Restess Soul” pada tahun 2019 yang dimana lagu ini masuk ke dalam E.P mereka.Menelurkan Extended Play bertajuk Self-Titled yang telah hadir di semua digital platform yang berisikan empat buah lagu diantaranya Fire, Restless Soul, Talk dan Wild. Seperti apa gambaran dari E.P mereka? Mari kita simak!

Desain oleh Randy Saputra

Memasuki lagu pertama yang berjudul Fire, disuguhi oleh intro yang cukup panjang berdurasi dua menit lebih lima puluh sembilan detik, diawali intro dengan suara percikan air yang mengalir membuat suasana hati dan lingkungan menjadi sejuk. Memasuki tiga menit berjalan, muncullah suara vokal yang berteriak dengan lantang dan disusul oleh instrumen lainnya membuat band ini utuh sebagai post-rock sejati. Memang sedikit hiperbola, tapi itu pernyataan jujur saya hahaha. Tetapi sangat disayangkan pada masuknya suara vokal tadi, suara gitar menjadi sedikit tenggelam tertutupi oleh suara bass. Awalnya saya kurang mengerti apakah headphone saya dalam kondisi rusak atau memang mereka menginginkan output seperti itu. Tapi karena penasaran, saya mencoba mengganti headphone saya dengan earphoneyang menghasilkan suara prima dan hasilnya masih tetap sama. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan alasan saya tidak menyukai lagu ini, karena lagu ini menjadi favorit saya setelah menonton aksi mereka secara langsung yang sempat dibawakan diatas panggung kala itu! Menuju nomor kedua, Restless Soul, dituntut untuk lebih santai dalam mendengarkannya melalui intro bass yang ciamik, masuk hentakan drum dengan tempo yang agak pelan mewakili perasaan yang damai. Jika kalian mendengarkan lagu satu ini, kalian dituntun untuk menikmatinya saja. Jangan sampai komentar dulu ya hahaha. Pada menit empat, masuknya vokal diiringi dengan pembacaan puisi (entah apakah ini termasuk puisi atau tidak, tapi saya yakin ini adalah puisi!) menjadikan bagian ini bagian yang indah. Selanjutnya menuju lagu nomor tiga yang berjudul Talk. Lagu ini digambarkan sebagai keresahan mereka dengan keadaan sekitar yang mewakili petikan gitar dengan diberi sedikit sentuhan efek delay yang menggumam pada bagian awal. Pada menit tiga lebih tiga detik, terjadi naiknya tempo sebagai ujung tombak emosi yang bisa dibilang klimaks. Epik! Kemudian pada sesi terakhir E.P ini ada Wild. Ditutup dengan alunan nada yang indah sebagai akhir E.P yang bahagia. Saya pun dibuat tersenyum oleh lagu ini seperti merayakan kemenangan setelah selesai menyelesaikan misi yang diberikan. Jika dirangkum keseleruhan dari E.P ini, menceritakan tentang dinamika dan dualisme dalam berkehidupan dan mengadaptasi pengalaman, cerita, atau yang dirasakan oleh lingkungan sekitar mengenai dilematisnya segala aspek kehidupan manusia. Proses rekaman materi E.P dilakukan secara live kecuali pada lagu Restless Soul direkam secara tracking di Antida Music Production. Kemudian proses rekam vokal dan synth lagu Fire, Talk dan Wild direkam di Kubuku Studio. Lalu proses mixing dan mastering nya dikerjakan oleh Tude Arta Sedana. Sementara pengerjaan visual artwork dikerjakan oleh Ramdaniansyah dan konsep desain dikerjakan oleh Randy Saputra.

Visual Artwork oleh Ramdaniansyah

Suatu proses yang cukup panjang bagi mereka membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Memang tidak salah berproses adalah suatu kunci keberhasilan semua lini. Selamat atas perilisan E.P ini dan semoga bisa diterima oleh para pendengar semua! Saya tunggu lagi karya-karya canggihnya dan semoga kedepannya bisa mengeluarkan album penuh! Amiiinnnn! Ingat jangan terlalu sering mengeluh karena mengeluh tidak akan membuatmu berkembang! Godspeed!

PROSES PENENANGAN DIRI DENGAN RENGKUH SEMADI

Jika berbicara tentang skena bawahtanah tidak akan habis untuk kita bicarakan. Banyaknya berbagi pengalaman antar skena masing-masing dari setiap daerah, dimana salah satu skena yang patut untuk selalu diperbincangkan adalah skena di Bandung. Kenapa selalu ada topik perbincangan di skena Bandung? Karena kesolidaritasan skenanya sangat baik dalam mendukung musisi lokalnya, maka banyak musisi lokalnya bisa dikenal luas, salah satunya adalah GODLESS SYMPTOMS. Kuintet crossover ini sempat vakum dua tahun lamanya yang dimana lagu ini telah digarap selama masa istirahat dikarenakan salah satu pendirinya, Tommy mengundurkan diri, lalu posisi tersebut digantikan oleh Ryan Pratama dari BLOODSUCKER. Setelah Ryan masuk dalam band ini, mereka mengeluarkan lagu terbaru yang berjudul “Rengkuh Semadi” dengan utuh. Seperti apa lagu baru mereka? Mari kita simak!

Memasuki detik keenam sudah dituntun untuk menganggukan kepala dan secara otomatis kalian akan merusuh (sudah siap-siap untuk nonton konser ini hahaha). Edan euy! Dengan tata suara ala band metalcore memadukan dengan kecepatan penggebug drum menjadikan bagian pertama sebagai bagian yang sangar. Growl ala hardcore adalah bagian utuh dari lagu ini dan energi dari hardcore sendiri menjadikannya liar. Membayangkan jika berada di area moshpit yang luas dan lagu ini menjadi bagian awal dari aksi mereka, dijamin kalian ingin nagih lagi untuk mereka tetap beraksi seharian penuh hahaha. Melanjutkan menit berikutnya yang dimana saya berada pada menit pertama lebih dua puluh tujuh detik, saatnya pencabik bass menjadi bagian utama di dalam melihatkan aksinya dengan diiringi tempo yang sedikit lambat untuk memberikan nafas supaya bisa melanjutkan keliaran berikutnya. Kemudian disusul pada menit kedua lebih dua puluh lima detik dengan gagahnya seorang gitaris bercinta dengan gitarnya melengkapi keindahan lagu ini. Selanjutnya ditutup dengan gauman “Rengkuh Semadi… Rengkuh Semadi… Rengkuh Semadi…!” dari sang vokalis. Bagian akhir yang indah! Pada lagu ini menceritakan tentang perlunya manusia untuk mengistirahatkan pikirannya ketika sedang berantakan dan emosi yang tidak terkontrol yang bisa menguasai jiwa kita sendiri, maka proses penenangan diri ini bisa dilakukan oleh setiap orang. Pada proses rekam lagu ini dilakukan di Red Studio Bandung yang dikerjakan oleh Ako dan Cepi. Kemudian proses mixing nya dikerjakan oleh Adhit Android (HELM PROYEK) dan mastering nya dikerjakan oleh Indra Severus (THE SIGIT dan PURE SATURDAY). Lalu untuk perilisan digitalnya dirilis oleh Grimloc Records Bandung.

Semoga lagu ini menjadi daftar lagu metal favorit kalian untuk saat ini! Kalau bagi saya lagu ini wajib didengarkan karena membuat kalian menjadi semangat lagi walaupun dengan kondisi saat ini kita tidak tahu selesainya sampai kapan dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, tapi harus semangat. Bagi yang penasaran dengan lagu ini bisa langsung menuju digital platform mereka. Akhir kalimat saya ucapkan terimakasih bisa berkesempatan mengulas lagu ini dan sukses terus buat GODLESS SYMPTOMS yang telah mengeluarkan karya canggih ini. Saya tidak sabar untuk menunggu album penuhnya! Jangan banyak mengeluh karena mengeluh tidak menghasilkan apa-apa! Godspeed!

BANGKITKAN NUANSA MUSIK NEW WAVE

New wave adalah salah satu genre musik yang terbilang tak asing lagi di dunia permusikan, namun bisa terdengar unik untuk penikmat musik di Indonesia. Genre musik yang muncul di tahun 1970 di Amerika ini sempat hingar bingar diindustri musik dunia dengan menggabungkan beberapa elemen genre rock eksperimental dan music eletronic. Genre musik ini mengalami kebangkitan kembali di tahun 2000-an, seperti halnya CIRCLES band yang terbentuk di tahun 2019 dengan orang-orang yang bukan terbilang baru di dunia musik tanah air. Mereka tak ingin main aman dengan mengusung genreelectronic-wave adaptasi dari musik new wave. CIRCLES band yang dimotori oleh Jeyra (synth player & producers), Osa (drummer), Bayu (guitarist), dan Linda (vocalist) yang berlatar belakang segudang pengalaman tentang bagaimana menyenangkan hidup bersama musik.

Penulis oleh Alif Nugraha

Pertemuan mereka terbilang singkat namun mampu menghasilkan karya yang terbilang cukup diperhitungkan dengan proses pematangan konsep selama 5 bulan dan mereka berhasil untuk merilis single perdananya yang berjudul “Universe” yang mereka rilis dibulan Mei 2020 kemarin. Dengan lirik yang padat dan akan banyak makna, “Universe” berhasil membawa saya pada ruang dimensi yang berbeda, dengan kentalnya nuansa electronic dan effect vokal milik Linda yang terdengar syahdu membuat single ini cukup mumpuni untuk kita nikmati dalam keadaan yang tenang dan hangover tentunya , hahaha.

Terlepas dari itu semua mereka lagi-lagi berhasil membuat saya terkagum dengan musisi Indonesia dan Bali khususnya. Meski saya kurang mengikuti genre ini, namun mereka mampu menyuguhkan musik yang fresh ditengah industri musik mainstream Indonesia yang menampilkan musik yang itu-itu saja. Mereka juga termasuk musisi yang cukup produktif meski diderai badai pandemi covid sialan ini, tapi tak menyurutkan hasrat mereka untuk berkarya dan menyelesaikan project mereka yang sempat tertunda. Untuk saat ini mereka sedang disibukkan untuk merilis single ini dan sekaligus menggarap materi lainnya untuk album mereka nantinya. Dengan “Universe” mereka berharap agar musik mereka bisa diterima masyarakat dan menginterpretasikan musik yang tak hanya bisa didengarkan namun juga bisa dirasakan.

Single mereka sudah bisa dinikmati di media platform mereka seperti Spotify sebagai musik streaming dan YouTube sebagai video lyrics dan kalian juga bisa kunjungi officialpage mereka agar kalian bisa mengetahui lebih lanjut tentang aktivitas mereka dan informasi tentang album mereka yang sedang mereka garap. Diakhir kata jangan berhenti untuk bereksplorasi dengan jangkauan dengar musik lintas genre, baik luar maupun dalam negeri. Hidup musisi Indonesia!

MISTERIA, NUANSA KELAM YANG MENGHANYUTKAN DARI GOODNIGHT ELECTRIC

Musik era 80-an memiliki kilauan yang abadi, ketika musik disajikan penuh estetika dengan presentasi teatrikal, komposisi megah dan lirik yang indah. Kita sudah “kenyang” mendengar klise-klise gemilang yang mewarnai obrolan kala bernostalgia ke masa itu. Musik tahun 1980-an berhasil membuatnya dikenang dengan riang dan direnung dengan haru, sebuah dekade yang penuh warna. Ramainya bermunculan genre-genre musik seperti: R&B, Disco, Electro-Pop, Synth-Pop dan lain-lain, dikarenakan oleh peningkatan penggunaan rekaman digital yang menampilkan suara dari instrumen non-tradisional yang semakin populer.

Dalam ruang musik lokal, terdapat banyak grup musik yang terinspirasi dari era 80-an pengaruh dari ABBA, A-HA, THE SMITH, THE CURE, DURAN-DURAN, DEPECH MODE, dan masih banyak yang lainnya. GOODNIGHT ELECTRIC adalah salah satu band yang berhasil dan konsisten memainkan 80’s music dalam pasar musik Indonesia. Kini mereka kembali dengan merilis album terbaru bertajuk “Misteria”. Bagi para pendengarnya yang telah mengikuti perjalanan GOODNIGHT ELECTRIC dari awal hingga kini, pastinya akan dibuat terkejut oleh karya anyar mereka yang satu ini. Dalam penggarapannya yang menghabiskan waktu selama 3 bulan lebih, “Misteria” menghadirkan banyak elemen pembaruan dalam metamorfosa gaya musik, seperti penggunaan lirik berbahasa Indonesia yang mulai intens, penambahan instrumen gitar dan bass yang diisi oleh member baru Andi Hans dan Vincent Rompies, serta nuansa baru yang gelap mendominasi warna lagu-lagu mereka. Bagaimana isi dari album yang digadang-gadang menjadi landmark baru GOODNIGHT ELECTRIC di masa sekarang? Mari simak!

Penulis oleh Gungwah Alit

Pada track pembuka menampilkan musik instrumental singkat (1 menit 43 detik) berjudul “Labuh”, sebuah rangkaian bunyi tanpa vokal dan lirik. Dimulai dengan dentingan gemericik dan gema yang menyayat, alunan gelap album “Misteria” pun dimulai. Semakin lama semakin dalam dimainkan, seolah menuntun memasuki dimensi baru dari GOODNIGHT ELECTRIC.

Track kedua berjudul “Misteria” yang sekaligus menjadi nama album ini, menceritakan tentang keluh kesah dan harapan dalam sebuah persahabatan. Bergabungnya Andi (gitar) dan Vincent (bass) berhasil mengisi “kekosongan” dari konsep yang terdahulu, menjadi lebih terdengar padat sebagai kesatuan full band. Lagu ini menghadirkan musik yang syahdu dan menenangkan, namun terdengar pekat akan nuansa kelamnya, bagaikan tengah berada di taman penuh bunga dipayungi awan mendung yang pekat. Permainan lirik yang indah menjadikan lagu ini tidak mudah untuk dikupas jalan ceritanya, melainkan kita dibuat terlena untuk menikmati sajian lagu secara utuh, tanpa berfokus mengutarakan maksud yang dituju. Hal tersebut justru menjadi keunggulan lagu-lagu pada album ini, pendengar akan dibuat menerka-nerka maksud yang tersirat, bahkan dapat mengilustrasikannya sesuai khayal pribadi.

Berganti ke track selanjutnya berjudul “-Dopamin”, dopamin sendiri merupakan hormon pengendali emosi yang ketika dilepaskan dengan jumlah yang tepat akan meningkatkan suasana hati, sehingga akan merasa lebih bahagia. Single ini dirilis pada 6 Februari 2020, dalam peluncurannya GOODNIGHT ELECTRIC mengajak para penggemarnya untuk berpartisipasi dengan mengunggah instastory menggunakan “GE-Dopamin Instagram Story Filter” yang cukup berhasil mencuri perhatian. Lagu ini mengungkapkan tentang betapa beratnya kehilangan seseorang dan sulitnya menutup luka yang diciptakan oleh kenangan masa lalu. Aransemen musik begitu kental akan nuansa disko 80-an yang dibalut elegan dengan format band masa kini, yang tentunya berbaur konsisten dengan konsep gelap album “Misteria”.

Lanjut pada track berikutnya, merupakan musik instrumental yang kedua pada album ini, berjudul “Arah”. Tidak banyak yang dapat dijelaskan pada track berdurasi 57 detik ini, dapat diibaratkan hanya sebagai variasi penyeling dalam menikmati rentetan album ini. Instrumental ini juga menjadi penghubung pada intro lagu selanjutnya yang disengajakan menjadi tunggal.

 Menyambung dari track instrumental sebelumnya, masuklah track kelima berjudul “Saksikan Akhir Dunia Denganku”. Spektrum musik yang divisualkan pada lagu ini berhasil membawa pendengar masuk ke dalam cerita yang ironi, berkisahkan tentang gelapnya perjalanan sepasang kekasih yang terkucilkan oleh lingkungannya. Pada suatu penggalan liriknya menuliskan:

“Kau dan aku”

“Adalah kegelapan yang terpendam”

“Dibalik kebisingan”

“Ku kan menjadi penjaga nisan tidurmu”

“Kau kan menjadi sekebun mawar hitamku”

“Hingga rembulan berputar tak tentu arah”

“Kan kau saksikan bersama akhir dunia denganku”

Perpaduan vokal dengan musik yang perlahan dan saksama, memberikan rasa berdebar yang mencapai klimaksnya. Tema lagu yang juga mengangkat kisah perjuangan cinta dua sejoli akan terasa personal bagi yang pernah atau sedang mengalaminya.

Track selanjutnya berjudul “Saturn Girl”, lagu yang menenangkan dan juga menghanyutkan. Dalam penulisannya menggambarkan seseorang yang berpesan kepada seorang gadis yang disebutnya “Saturn Girl” untuk selalu berbagi cerita kepadanya, baik dalam sedih, sunyi, resah maupun rahasia. Pada album “Misteria” Goodnight Electric memperlihatkan sisi romantika melalui penulisan yang elok serta aransemen musik indah walaupun dengan tone yang gelap.  

Sampailah pada 2 track penutup, “Erotika” dan “VCR”. Merupakan bonus track yang dirilis sebelumnya dalam bentuk single ganda piringan hitam 7 inci dan kini menjadi bagian dalam album “Misteria”. Videoofficial music dan lyric keduanya sudah dapat disaksikan pada akun Youtube mereka yaitu Goodnight Electric Official.

Awal tahun 2020 menjadi momentum baru bagi GOODNIGHT ELECTRIC, mengundang Vincent Rompies, Andi Hans dan Priscilla Jamail untuk bergabung ke dalam band tentunya menghadirkan semangat baru yang segar. Pada album baru ini mereka nampak mengalami proses perjalanan yang panjang, melihat banyaknya eksplorasi yang telah dilakukan. “Misteria” tentu akan melahirkan respon yang beragam dari pendengarnya, namun GOODNIGHT ELECTRIC membuktikan mereka berani mengambil langkah keluar dari zona nyamannya. Materi album yang jauh berbeda dari sebelumnya-sebelumnya nampak telah dipersiapkan dengan matang, terungkap kepiawaian Henry Foundation menulis lirik berbahasa Indonesia yang sarat akan romantika menyatu dengan musik yang kelam. Selamat untuk GOODNIGHT ELECTRIC atas dirilisnya album baru yang bertajuk “Misteria”, semoga dengan konsep baru yang ditawarkan akan memberi respon positif dari pendengarnya dan dapat mamacu karya yang terus meningkat!

INTERAKSI HAMBA JUMAWA DENGAN PUTUS ASA LEWAT PERCAKAPAN PT 1

Apa kabar semua pembaca Jurnal Musik ? Apakah kalian sudah mulai bosan dengan aktivitas PSBB dan berkarantina di rumah ? Mari kita simak ulasan ini, supaya bisa sedikitnya mengatasi kebosanan kalian di rumah. Musik pop elektronik yang mulai bermunculan dan sangat masif pergerakannya di Indonesia. Setelah masuknya pengaruh musik – musik EDM  yang sangat diterima dengan antusias oleh penikmat musik tanah air, yang notabenenya adalah anak anak muda edgy di era ini. Siapa yang tak kenal dengan MANTRA VUTURA dan HINDIA. Ya mereka grup musik elektronik dijalur indie, yang belakangan ini ramai dibincangkan oleh setiap tongkrongan anak muda ibukota dan kota kota besar di Indonesia lainnya. MANTRA VUTURA yang baru saja merilis single “Percakapan pt 1” menggaet Baskara Putra aka HINDIA untuk menuangkan ide-ide nya bersama pada lagu ini. Seakan kurang puas terhadap hasrat mereka untuk berkarya setelah beberapa bulan lalu mereka juga merilis single pada bulan lalu 2020. 

Penulis oleh Alif Nugraha

Didengar dari intro awal lagu yang terdengar sangat dark dan penuh dengan nuansa putus asa yang menambahkan nyawa pada lagu “percakapan pt 1” dan juga pilihan lirik yang ditulis oleh HINDIA dirasa tajam dan itu juga menjadi alasan mereka untuk berkolaborasi dengan HINDIA aka Baskara Putra. Diperuntukkan oleh hamba yang sedang berputus asa akibat setiap doa-doanya tak diindahkan oleh “Sang Pencipta”. Lagu ini juga menjadi dialog terhadap Tuhan dan lebih menyalahkan Nya, namun semua itu atas ulahnya sendiri. Walaupun dirasa bertentangan namun lagu ini lebih mengingatkan kita untuk lebih bersyukur terhadap segala hal yang diterima. 

Ditengah pengerjaan single ini HINDIA menawarkan diri untuk memperpanjang masa pada single ini dengan memberikan judul “Percakapan pt 1” yang diharapkan akan ada pt 2, 3, 4 dan seterusnya. Mereka juga sepakat bahwa lagu ini menjadi hal yang fresh untuk mereka, terutama HINDIA karena belum pernah menggarap musik yang seperti album dan single yang pernah ditulis sebelumnya. Bisa juga menjadi arahan baru musik mereka, yang menjadi dorongan mereka untuk menciptakan “Percakapan pt 1” karena adanya spektrum perasaan tertentu yang mereka rasakan dan juga tak bisa untuk diselesaikan secara individual.

“Percakapan pt 1” juga menjadi penanda kolaborasi panjang diantara mereka, sebelumnya MANTRA VUTURA juga sudah pernah merilis albumnya yang pertama “Solar Labyrinth” di tahun 2017 yang secara keseluruhan membahas pencipta alam semesta dan juga “Human” di tahun 2019 yang juga menceritakan 7 kebajikan manusia.

Untuk kalian yang penasaran dengan lagu “Percakapan pt 1” kalian sudah bisa untuk mendengarkannya dimedia platfom dan di channel YouTube mereka. Kalian juga bisa mendukung pergerakan musisi indie dengan membeli CD orisinil mereka atau membeli merchandise resmi mereka. Hidup musisi Indonesia!

MUNCULNYA LUDICIA, LAHIRNYA “AVONTUR”

Akhirnya saya mulai menulis lagi dengan kurun waktu yang cukup lama dikarenakan ada kesibukan yang harus saya jalani belakangan ini. Saya akan mengulas dengan waktu yang tepat untuk kedepannya! Mohon permaklumannya hehehe. Kali ini saya akan menulis band yang bisa dibilang baru lahir dari skena bawahtanah di Bali. Sebutan super group telah banyak dilakoni beberapa musisi mancanegara maupun lokal yang dimana sebutan tersebut dibentuk oleh musisi-musisi ternama menjadi band yang super canggih. Selain SENDAWA sebagai band favorit saya dalam katagori super band, kali ini ada LUDICIA. Nama LUDICIA sendiri diambil dari karakter fiksi dari anak sang bintang timur. Karakter fiksi ini tercipta oleh pikiran bodoh mengenai Lucifer seperti apa benar malaikat “terbaik” Tuhan didepak dari surga? Maka lahirlah nama tersebut! LUDICIA adalah band project dari Kumz dan Chanz dengan selera musik yang sama dan mereka memiliki keinginan untuk membuat musik yang beda khususnya musik keras di Bali. Pada proses pembuatan materi, mereka mengajak Chriz untuk mengisi posisi vokal. Kehadirannya membuat suasana yang baru dengan karakter vokal yang lebih cendrung pada jenis musik hardcore. Sangat beda apa karakter vokal metal yang sering dengar oleh Kumz dan Chanz, Chriz membumbui materi tersebut dengan indah.

Mereka pun nantinya akan merilis album penuh yang bertajuk “Avontur” yang artinya “Petualangan” yang mengisahkan tentang perjalanan band ini. Serunya adalah proses rekaman ini menggait tujuh drummer handal nan berbahaya di Bali diantaranya Monot dari  KALIGULA, Guz Cilik dari TROJAN/NATTER JACK, Sandy Winarta dari MASTER JAZZ, Copletz dari PAINFULL BY KISSES, Nova dari SCARED OF BUMS, Indra Blast dari BERSIMBAH DARAH/WOUNDEATH, dan Tony dari ERROR SCREAM. Album ini nantinya berisi sepuluh nomor berbahaya dengan warna yang beragam. Jadi penasaran hahaha. Pada bulan April 2020, mereka resmi mengajak Monot aka Montz untuk mengisi posisi drum dan formasi utuh mereka ada Chriz (vokal), Kumz (gitar), Chanz (gitar) dan Montz (drum) sebagai format yang ciamik!

Pada tanggal 1 Juni 2020 mereka resmi mengeluarkan single bertajuk “Chapter I : I AM” yang bisa kalian dengarkan via kanal Youtube mereka. Single ini sebagai perkenalan seperti apa musik mereka yang akan menuju album penuh nantinya. Silahkan dipantau terus perkembangan LUDICIA pada akun media sosial instagramnya. Semoga proses rekamannya bisa cepat selesai dan sukses dengan project baru ini. Masa kelam pandemi yang tidak tahu sampai kapan akan berakhir ini, semoga kalian bisa tetap berkarya dan jangan banyak mengeluh! Godspeed!

ZIRAH, KELOMPOK ROCK PEREMPUAN YANG HADIRKAN SOLUSI TIPUAN

Keterkaitan perempuan dengan musik mengingatkan kembali dengan sebuah fenomena “Groupie”, sebutan bagi perempuan yang mencari keintiman dengan para musisi. Di era musik jaman dulu perempuan tidak terlibat dalam proses berkarya, mereka lebih sering terlihat menemani para awak band dibalik panggung. Semua dilakukan tanpa ada paksaan, melainkan karena mereka ingin berada disana semaksimal mungkin. Sempat muncul perdebatan yang memandang “Groupie” sebagai objek ketidak-berdayaan perempuan, hingga suatu saat terjadilah perubahan dimana mulai muncul deretan band-band beranggotakan para perempuan didalamnya. Sejak saat itu dunia permusikan bukan hanya milik laki-laki semata, perlahan perempuan memperoleh kehormatannya di panggung musik. Penampilan menarik serta kemampuan yang ditunjukkan semacam mencairkan dan memberi kesegaran bagi para penikmat musik.

Penulis oleh Gungwah Alit

Di skena musik Indonesia, band dengan personil perempuan hadir silih berganti, dimana mereka tetap bersikeras melawan derasnya dominasi laki-laki. Saat ini muncul nama ZIRAH, sebuah grup musik asal Jakarta yang terbentuk tahun 2017 beranggotakan: Alyssa Isnan (vokal), Anissa Yasmin (bass), Raissa Faranda (gitar) dan Talitha Mailangkay (drum), tengah merilis EP perdana yang diberi judul serupa dengan nama mereka yaitu “Zirah”. EP ini berisikan enam lagu dengan satu bonus track tambahan (Bayangan Hidup, Merduka, Siapa Kamu, Kuasa, Pusaka Pertiwi, Lagunya Zirah dan Solusi Tipuan). Bagaimana isi dari album mereka? Mari simak!

Mulai memutar CD, track pertama berjudul “Bayangan Hidup”, lagu dan video klipnya disebut menjadi penanda dirilisnya mini album ini. Pada intro terdengar petikan gitar yang dengan mudahnya langsung melekat, disusul dentuman drum yang mempertegas ritme dan getaran bass melengkapi harmoni, seakan menjanjikan sesuatu dikelanjutannya. Dari segi lirik terlihat penggunaan rima yang tepat menjadi faktor pendukung kenikmatan lagu, ditambah maksud yang terkandung juga mudah untuk dipahami. Distorsi yang memuncak seketika tenang mengalir seiring petikan gitar hadir kembali, naik-turun dan berulang-ulang, terbukti ampuh memainkan emosi pendengarnya. Video klip lagu ini berlatar tempat disebuah hutan yang cukup memvisualkan nuansa dari lagu, sudah tayang sejak 6 Februari 2020 di akun Youtube mereka.

Lagu berganti, track selanjutnya berjudul “Merduka”. Tentunya bukan kesalahan dalam penulisan, melainkan penggabungan antara dua kata yaitu merdeka dan berduka. Dalam suatu penggalan liriknya menuliskan kalimat “merdeka adalah mati”, mengartikan setiap individu belum mencapai kemerdekaannya sebelum Ia mati, dengan itu terlepaslah segala ikatan duniawi. Pemilihan nada pada suara vokal terasa rekat dengan rona feminim, berhasil menyatu dengan karakter rock yang menjadi “kiblat” ZIRAH.

Track ketiga berjudul “Siapa Kamu”, menjadi lagu dengan barisan lirik terpanjang di album ini. Pada lagu ini ZIRAH seperti mengeksplorasi musikalitasnya demi memperkaya warna lagu-lagunya. Tidak ada yang ditonjolkan secara berlebihan, namun terdengar matang dan berkomposisi seimbang. Dengan lirik yang bertanya-tanya, ditujukan kepada mereka yang tengah ragu dan belum menemukan siapa dirinya. Dinamika musik yang terus berputar memberi jaminan lagu ini tidak membosankan, bahkan akan menjadi salah satu track favorite.

Lagu “Kuasa” menjadi track keempat, ketukan perkusi ala orkes barisan terdengar akrab ditelinga mengiringi lagu. Musik yang jenaka dipadukan dengan lirik sarkas bermaksud menyindir para atasan yang bertindak semaunya kepada seorang bawahan. Tema lirik sebagai “korban” akan ditangkap dengan mudah oleh pendengarnya, tentu saja banyak yang mengalami hal serupa, terutama dalam dunia perkantoran. Penyelipan teriakan centil pada momen tepat juga memberikan faktor-x yang menguatkan lagu, dimana itu menjadi salah satu daya tarik tersembunyi dari seorang vocalist perempuan.

Berpindah ke track selanjutnya “Pusaka Pertiwi” atau yang sering disingkat (pusper). Saat membaca judul lagu dan mendengar untuk pertama kali, siapa yang akan menyangka ini berceritakan tentang fenomena masuk angin? Ya, suatu kondisi yang menyebabkan berkumpulnya gas didalam tubuh. Minyak Tawon diibaratkan sebagai pusaka ibu pertiwi yang dapat menjadi solusi ketika masuk angin melanda. Berikut potongan lirik pembuka lagu ini:

Bukan kupu-kupu malam

Kena ulah angin malam

Mati kutu ku dibuatnya

Aura adamnya menyelimutiku

Disini nampak kejelian ZIRAH menganalogikan sebuah penyakit yang sangat akrab di masyarakat, menjadi sebuah lirik lagu yang hadirkan penasaran namun ternyata memiliki benang merah yang sangat lumrah. Lagi-lagi alunan musik dimainkan sedemikian rupa berubah-ubah, dari mengayun lambat berpindah ke berjingkrak cepat.

 Semakin jauh semakin antusias dibuatnya, masuklah track keenam berjudul “Lagunya Zirah”. Merupakan lagu dengan suasana ceria yang memakai lirik apa adanya, seolah menggambarkan hari-hari mereka dalam lingkungan pergaulan. Kejujuran lagu ini akan memberi kedekatan pada Zirah dan pendengarnya yang dapat merasakan koneksi terhubung, dimana aktivitas remaja tongkrongan dijabarkan dengan gamblang. Pada musiknya diselipkan aransemen punk yang merusuh, pastinya dapat memecah kerumunan ketika ZIRAH tampil diatas panggung.

Kepingan CD yang terus berputar mendekati ujung album ini, sampailah di laguterakhir yang sekaligus menjadi bonus track, yaitu “Solusi Tipuan”. Lagu ini memiliki proses yang istimewa dalam penggarapannya, karena direkam ketika ZIRAH tampil live di Studio Palem, Jakarta. Sengaja dikonsepkan natural terdengar aba-aba sebelum lagu dimulai, dimana mereka mengajak penonton meneriakkan kalimat: “Talitha pukul drumnya..!”, musik pun bersambut dimainkan. Bonus track ini sengaja menyenggol realita sekarang, perspektif yang diputar terbalik memposisikan diri sebagai sebuah plastik yang mengeluarkan segala curahan hatinya. Berkesimpulan plastik tidak bermaksud merusak alam, tapi penggunaan oleh manusia yang sembarangan membuatnya nampak kejam.

Perilisan EP album bertajuk “Zirah” telah dipersiapkan dengan matang, terlihat keseriusan mereka menggarap materi album dibantu dengan orang-orang yang juga tepat. Para personil masing-masing berkontribusi dengan membagi seimbang proses berkaya, mereka kedapatan menciptakan lagunya masing-masing ditambah proses kolektif yang memenuhi keutuhan album ini. Agak sulit menemukan “celah minor” di dalamnya, sebuah EP yang sulit ditebak namun dapat dengan jelas menunjukkan siapa mereka. Selamat untuk ZIRAH atas perilisan Mini Album perdananya yang bertajuk “Zirah”, semoga kedepannya menghadirkan karya yang lebih meningkat dan tetap semangat perjuangkan suara perempuan dalam dunia permusikan! Rilisan mereka bisa kalian dapatkan di outlet-outlet Demajors yang ada dikota kalian!

BIMBANG TERHADAP PRINSIP MELALUI VENITA

Semakin banyak bermunculan band atau musisi yang mulai berani untuk mengeksplor musiknya lebih liar lagi, menjadi perkembangan musik di Indonesia saat ini sangat baik. Makin banyak refrensi yang aneh (mungkin bagi saya itu aneh hahaha) disisipkan pada materi-materi setiap lagunya. Band yang sudah terkenal maupun band yang baru merintis atau band yang kelas menengah pun sudah lebih baik dalam bermusiknya. Seperti halnya DIALOG DINI HARI yang mengeluarkan lagu baru berjudul “Kulminasi II” yang disuguhkan berbeda pada album-album yang telah dirilis sebelumnya menjadi warna baru dalam lagu ini. Wayan Jos ex-ZAT KIMIA memilih project solo yang dimana telah mengeluarkan EP berjudul “Soundtrack of Toguruga” yang menjadi soundtrack dari film Toguruga, berbeda dengan materi-materi yang telah dibuat pada saat masih di ZAT KIMIA. Begitu juga dengan ROLLFAST yang telah bertransformasi menjadi band pure psychedelic rock yang utuh melalui “Pajeromon” dan “Grand Theft Atma”. Begitu pun dengan ASTERA yang baru saja mengeluarkan lagu baru berjudul “Venita” berbeda dengan EP yang berjudul “I’m Okay, I’m Not Okay”, masih dengan suasana yang menyenangkan, tapi pada lagu ini mereka mampu bereksplorasi penuh pada lagu barunya ini.

Artwork oleh Rio Bagastian

Fotografer oleh Felixrio Prabowo

Mungkin beberapa orang khususnya di Bali masih tidak mengenal ASTERA adalah band Bali, karena mereka berdomisili di Yogyakarta dalam masa menempuh pendidikan disana. Mereka cukup dikenal di Yogyakarta dan sempat mengisi acara dalam festival-festival musik seperti “Exporesure 2019 Yogyakarta”, “Solevacation #4 Yogyakarta”, “Special Show by Yats Colony”, “Buzz Youth Festival Yogyakarta”, “Land of Leisure 2019 Yogyakarta”, “Jogia Migunani x Mech Some Noise”, “Anniversary Mall Galeria Yogyakarta” dan sempat juga berpartisipasi menjadi band pembuka dari rangkaian tur SVMMERDOSE. Prestasi cukup membanggakan bagi saya karena band yang berasal dari Bali ini mampu berada pada tingkat yang lebih tinggi lagi dalam bermusik. Kuartet alternative pop ini diantaranya Rio pada vokal, Dode pada gitar, Bagus pada gitar dan Chandra pada drum dan sequencer. Sebelum Rio mengisi posisi vokal, posisi ini diisi oleh Deva Ekada salah satu mantan kontesan Idola Cilik. Sayangnya saya tidak tahu siapa Deva Ekada ini hahaha.

Sebelum menuju EP yang bertajuk “I’m Okay, I’m Not Okay”, mereka telah merilis dua laguyang berjudul “Want To You Know” yang dirilis pada Juli 2018 dan “Twenty” dirilis pada September 2018. Kali ini pada tahun 2020, mereka akhirnya merilis lagu yang berjudul “Venita”. Lagu ini menceritakan tentang bagaimana kebimbangan suatu pilihan prinsip diri sendiri, bingung memilih arah yang mana, dan masih terpaku dengan suatu pendapat orang lain menjadi sebuah keresahan Rio sebagai penulis lirik. Semua orang pasti mengalami hal ini, tetapi proses tersebut memang harus dilewati dan ASTERA menuangkan ide tersebut pada lagu ini dengan karakter musik yang begitu fresh dari materi sebelumnya. Seperti yang saya katakan tadi diatas, suasana materi ini sama seperti materi-materi yang sudah dirilisnya, tetapi output nya sudah mulai cukup baik. Pada bagian intro sudah disuguhi dengan petikan gitar yang begitu ciamik dan disusul dengan suara gitar rhythm menjadikan bagian ini lebih harmoni. Memasuki menit pertama menjadikan musik ini lebih utuh. Posisi vokal yang berada ditengah adalah suatu pilihan yang tepat, tetapi sedikit kurang reverb supaya lebih manis lagi untuk didengar. Pada menit pertama lebih empat puluh lima detik, sedikit diberi jeda untuk memberi dinamika dan disusul pada menit dua lebih tujuh detik disisipi monolog yang dibacakan oleh Dewi Miedema sebagai memperindah lagu ini. Monolog ini ditulis oleh gitaris mereka, Bagus. “Paste to the concrete, Tryna be paint paste, disoriented” adalah salah satu penggalan liriknya yang tersirat dari makna lirik ini. “Kamu dipaksa atau terpaksa untuk menyukai sesuatu yang bahkan itu sangat kamu benci supaya orang disekitar menyukaimu”, ujar mereka. “Kami berharap siapapun yang terjebak dalam situasi itu, segera menemukan titik terang agar lepas ikatan tersebut. Beranjaklah dan perkenalkan dirimu dengan apapun itu yang kamu miliki”, lanjut mereka. Proses pengerjaan lagu ini dilakukan secara mandiri melalui home recording dengan proses mixing dan mastering oleh Elmo Ramadhan dan lagu ini bisa didengarkan melalui digital platform seperti Spotify, Deezer, iTunes dan lain-lain.

Semoga lagu ini menjadi tombak awal dalam menuju proses album penuh. Saya doakan album penuh nanti tidak akan mengecewakan dan menjadi album terbaik versi saya hahaha. Amiiinnnn! Semoga virus saat ini yang masih berkeliaran di Negara kita bisa cepat selesai dan semoga kita cepat bertemu di gigs-gigs lainnya. Selalu produktif dan jangan lupa cuci tangan supaya selalu sehat! Godspeed!

MENELAN DUKA BERSAMA PENCIPTA KENANGAN

Ditengah haru dunia saat ini, setiap manusia menunjukkan berbagai reaksi cemas, ketakutan bahkan amarah yang tak bertepi, dan terlebih pemberitaan dimedia massa yang terkesan menyebarkan ketakutan. Dan tak sedikit juga yang kehilangan orang-orang tercinta akibat pendemi ini. Itupun yang juga dirasakan oleh MORELIA band rock alternatif asal Bali yang terbentuk di tahun 2009, yang baru saja merilis single lawasnya yang bertajuk “Pencipta Kenangan”.

Foto oleh Morelia

Akibat pembatasan aktivitas sosial (social distance), mereka berhasil membongkar karya lawas yang telah dikerjakan kurang lebih 10 tahun lalu silam, dan akhirnya sepakat dirilis bulan April kemarin. Single ini dirasa berbeda karena menggandeng Izzy vokalis pertama dari MORELIA sekaligus reuni mereka yang bisa dibilang lama tidak berkarya bersama. “Pencipta Kenangan” dipilih karena liriknya menceritakan kehilangan orang terkasih yang mendahului berpulang. Melalui lagu “Pencipta Kenangan” bisa menjadi doa untuk kebaikan orang yang meninggalkan kita terlebih dahulu. Dengan lirik yang penuh kepedihan, single ini juga dukung oleh komposisi musik kelam gelap serta intonasi vokal miliki Izzy yang tegas, menggambar isi hati mereka lewat single ini, karena nyawa lagu ini sangat kuat sehingga kita terasa dibawa kedalam dimensi berbeda. Meski terkadang saya pun dibuat seperti tanpa rasa tapi lagu ini juga sukses membuat saya tertidur lelap dengan beban hidup yang masih membekas Hahaha. Selepas ditinggalkan vokalis kedua di tahun 2017 tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berkarya walau dengan keterbatasan waktu saat ini.

Penulis oleh Alif Nugraha

Mereka sebelumnya juga terbilang band yang cukup produktif, dilihat dari diskografi mereka MORELIA telah berhasil merilis dua album, album pertama mereka dengan format EP di tahun 2010 “Synergi” yang diisi oleh Izzy dan album penuh mereka  di tahun 2016 “Morelia” yang diisi oleh Sendry yang menggantikan posisi Izzy setelah meninggalkan band ini. Pencipta kenangan dirilis dengan format digital yang bisa kalian nikmati di channel Youtube mereka dan media platform lainnya. Untuk mengetahui lebih lanjut aktifitas tentang MORELIA kalian bisa kunjungi sosial media mereka di Instagram @morelia_band atau Facebook mereka morelia.bali. Akhir kata tetap semangat, hidup sehat selalu berdoa dan berdoa agar kira bisa dipertemukan kembali berkeluh-kesah bahkan berbagi alkohol nantinya dan saya juga berharap besar supaya berkurangnya tingkat kematian akibat pandemi sialan ini! Stay safe dan jaga kesehatan!

MENGHANTUI DENGAN “ROCK N ROLL KEGELAPAN”

Jenis musik punk tidak asing lagi oleh kita di skena bawahtanah. Bahkan banyaknya turunan jenis musik punk yang hadir di Indonesia salah satunya jenis musik horror punk. Di Indonesia sendiri, yang berhasil membawa jenis musik ini adalah KELELAWAR MALAM. Bali sendiri akhirnya berhasil juga membawa jenis musik ini yang dianggap kurang populer para pendengar musik, HHOLLOWW telah membuktikan berhasilnya mengikuti jejak KELELAWAR MALAM. Baru saja, tepat pada tahun 2020, HHOLLOWW telah merilis album penuh bertajuk “Rock n Roll Kegelapan” yang dirilis oleh Skullism Records berupa cakram padat. Dengan formasi lima orang didalamnya diantara ada Aditya (vokal), Irvan (bass), Arik (lead), Didit (rhythm) dan Rio (dram). Keresahan para personil mengenai hal mistis, mitos, legenda dan hal tabu sekali pun yang akhirnya memilih jenis musik ini dengan mengkombinasi unsur jenis musik lain sebagai musik yang utuh pada album ini.

Artwork oleh Dwiana Putra aka Hurufmati

Memasuki pintu gerbang Aokigahara menuju ruang kegelapan disambut dengan musik horor orkestra sang komposer Tangkas Made Priyaka dan Mariano Servasius Edon (Nanoedon) menjadikan awal petualangan saya melewati sembilan titik yang akan saya tuju. Berhasil melewati pintu gerbang horor tersebut, para Invasi Merman yang kejam mengacaukan tempat ini membuat saya melaju lebih kencang lagi untuk berada dititik ketiga. Dentuman melodi ala punk rock membuat lari saya semakin kencang untuk menghindari makhluk mitologi ini. Pada tempat ketiga yang saya kunjungi ini bertemu dengan sesosok legenda asal London yang sangat kejam pada tahun 1888 yang sampai saat ini menjadi misteri orang ini siapa. Jack the Ripper sebagai sebutan pembunuh ini. Para peneliti jaman itu menyebutkan istilah Ripperologi untuk menggambarkan kajian dan analisis mengenai kasus ini. Dengan tempo cepat dan monoton yang berdurasi satu menit lebih empat puluh detik saya pun mulai beranjak pergi dari titik ketiga menuju titik keempat. Pada titik ini saya berada didalam ruang Viva La Vampira yang hanya terlihat seseorang yang berdiri tegak dibawah sinar cahaya bulan penuh. “Jeritan ditengah malam, darahmu milik mereka” terpampang pada salah satu kartu yang saya pegang. Setelah membaca itu saya pun menuju destinasi kelima. Destinasi ini adalah destinasi yang sangat mengerikan daripada destinasi yang sudah saya lewati. Memasuki daerah ini, intro ala BLACK SABBATH telah menyambut saya dengan gagahnya. Kemudian saya bertemu dengan Lycantrof yang sudah bersiap – siap melahap mangsa. Begitu liar, saya terus berlari menuju destinasi selanjutnya. Sampai dititik enam ini, saya disambut dengan suara distorsi yang begitu berat ala doom metal sang komposer Gvngyoga dari CYCLOPS yang dimana ini adalah nada – nada pemujaan Berhala yang akan berlangsung! Setelah selesai pemujaan, saya berada dititik ketujuh dimana titik ini begitu tampak ramai dipenuhi makhluk aneh lainnya untuk menikmati pesta Rock n Roll Kegelapan. Rusuh adalah kata pas mewakili ini! Cukup puas dengan pesta tadi, saatnya saya menuju ke destinasi kedelapan. Tampak seorang ilmuan yang menciptakan monster dengan serpihan dan potongan orang mati. Orang – orang menyebutnya Frankie si ilmuan jenius. Masih dengan tempo punk standar kemudian disusulnya tempo pelan menuju sesi terakhir menjadi bagian ini tidak spesial, tapi dengan porsi yang tidak berlebihan, ini bisa dikatakan cukup baik! Perjalanan saya lanjutkan menuju destinasi kesembilan. Titik ini cukup menarik buat saya dikarenakan saya melihat sebuah kapal yang katanya kapal tersebut telah dikutuk terus mengarungi lautan. Orang – orang menyebutnya si Kapal Terkutuk kapten Dracken. Konstan dan padat ala CRIMINAL ASSHOLE menjadikan bagian ini bagian nada punk yang sebenarnya. Posisi gelap terbitlah terang. Sampai juga saya pada titik terakhir yang dimana Ratu Kegelapan cover dari KELELAWAR MALAM menjadi bagian yang paling bahagia selama perjalanan yang saya tempuh selama ini. Destinasi terakhir yang cukup bahagia dan puas bisa melewati beberapa destinasi yang menyeramkan dan ganas!

Foto oleh Bayu Andhika

Melihat dari artwork cover album yang dibuat oleh Dwiana Putra aka Hurufmati sangat lucu, terpampang gambar para personil seperti tidak menggambarkan band horror punk hehehe. Menurut saya masih belum bisa mewakili horor band ini. Silahkan pesan fisiknya melalui Skullism Records atau pemesanan langsung pada band yang bersangkutan. Bisa cek instagram Skullism Records dan HHOLLOWW. Semoga album ini menjadi daftar album bahaya buat kalian. Dukung musisi lokal dan selalu dukung band lokal dengan cara membeli rilisan fisiknya atau bisa membeli merchandise mereka! Godspeed!

DUNIA SAAT INI DALAM KULMINASI II

Semenjak teror pandemi covid 19 yang menimbulkan polemik disetiap penjuru dunia tidak terkecuali Indonesia, memaksa kita untuk membatasi bahkan meniadakan kegiatan sosial, hingga menjadi sejarah terburuk peradaban manusia di era globalisasi.

Artwork oleh Cempaka Surakusumah

Namun itu semua tidak menjadi penghalang bagi musisi tanah air untuk tetap lebih berkarya sekreatif mungkin hingga menjadi trend belakangan ini, jamming session via online, bahkan home recording jadi salah satu contoh tepat untuk para musisi menuangkan ide – ide nya ditengah wabah ini, DIALOG DINI HARI band folk asal Denpasar, Bali yang baru saja mengeluarkan album bertajuk “Parahidup” pada tahun lalu, juga ikut ambil alih dengan menelurkan single berjudul “Kulminasi II”, single ini jauh berbeda dengan musik mereka sebelumnya, yang dimana lebih banyak bereksplorasi dalam komposisi dan notasi pada musik mereka, tetap dengan porsi yang jujur dan tak ingin mengurangi sedikit pun kualitas musik mereka. Dimana telah menjamurnya lagu yang bertema serupa, tumbuh oleh beberapa musisi yang memang benar peduli dengan situasi ini atau demi ingin mengejar popularitas dibalik musibah pandemi ini sebagai acuan untuk melakukan suatu karya (sucks). Lirik ini ditulis sendiri oleh sang vokalis Dadang SH Pranoto yang menceritakan tentang kesadaran terhadap kemanusiaan ketuhanan dan arti kehidupan yang diharapkan membawa mereka (pendengar) supaya lebih sadar dan mawas diri ditengah pandemi ini atau lebih tepatnya introspeksi diri.

Foto oleh Gus Wib

“Hari ini, kita pahami tentang kematian, tapi cinta terus tumbuh kembali dikehidupan” penggalan lirik yang sederhana jujur dan bermakna sangat dalam yang dibalut dengan lantunan gitar milik Dadang SH Pranoto yang tenang khas musik namun dengan nuansa jazz yang lembut dan dentuman bass yang menghidupkan tempo lagu ini, ditambah dengan ketukan drum tegas penuh teknik dari Deni Surya berhasil menggiring kita pada ruang desolasi yang menyayat hati dan juga beberapa komposisi aransemen yang apik menambah estetika musik mereka menjadi lebih matang dan diperhitungkan setiap bagiannya, Mereka merekam lagu ini melalui proses home recording pada masing – masing personil dalam kurun waktu sebulan, namun untuk prosesi mixing dikerjakan oleh Lengkung Langit Studio di Denpasar dan pada proses mastering-nya di Posko Studio milik Deni Surya yang mungkin lebih mengerti dengan keinginan tata suara dari lagu ini. “Masing-masing dari kami punya peralatan rekaman yang mumpuni. Jadi, produksi bisa dikerjakan dari jauh, di rumah masing-masing,” cerita Pohon Tua (vokal dan gitar).

Penulis oleh Alif Nugraha

 “Mungkin ada tatanan yang berubah, tentang bagaimana manusia satu melihat manusia lainnya. Aku antara penasaran dan khawatir juga. Kita yang orang timur pada dasarnya kan sulit untuk menerima social distancing. Akan seperti apa, itu yang buat aku curiga. Rasanya akan terbawa terus sampai ini semua selesai. Aku pikir, kita akan berubah secara tatanan sosial. Dan ini akan terjadi di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Perlu waktu lama. Yang bisa kita lakukan ya, perlu bahu membahu,” terangnya tentang gejala yang coba direkam. “Kulminasi II” juga dipresentasikan dalam bentuk artwork yang dikerjakan oleh Cempaka Surakusumah. Lagu ini dinaungi oleh label Rain Dogs Records dan resmi dirilis pada tanggal 14 april 2020 kemarin yang secara penyebarannya melalui channel Youtube dan media platform digital lainnya. Mereka juga ikut bergerak dalam penanganan covid 19 di Bali dengan berdonasi Alat Pelindung Diri (APD) untuk petugas medis di Bali, lewat media Bale Bengong dan Taman Baca Kesiman. Jika ada dari teman – teman yang berkenan untuk berdonasi silahkan kunjungi channel Youtube mereka untuk lebih detailnya dideskripsi video “Kulminasi II”. Saya juga berharap agar semua ini cepat pulih dan berlalu supaya kita bisa kembali menjalani aktivitas kita seperti sediakala dan tetap jaga kesehatan rekan – rekan! Stay safe use masker and social distance!

FLEUR! TRIO DARA DENGAN “MUKA DUA”

Maraknya perkembangan jenis musik rock di Nusantara yang mampu menyita perhatian anak muda di era ini, rock n’ roll menjadi perhatian orang saat ini! Jenis musik ini sangat melekat dikalangan anak muda hingga kaum tua dan melahirkan regenerasi disetiap masanya. Sebut saja THE SIGIT, KELOMPOK PENERBANG ROCKET dan masih banyak lagi band – band yang tumbuh dengan jenis musik rock yang mencoba mengambil alih pasar musik di Indonesia yang diterpa balada musik Electric Digital Music (EDM) hahahaha. FLEUR! trio dara asal ibukota yang sukses mengkemas musik rock n’ roll yang keras dan liar menjadi lebih harmoni nan indah. Semua itu berawal dari tahun 2017 silam, kala itu masih dengan nama FLOWER GIRL dengan formasi awal Tanya Ditaputri, Tika Pramesti, Rika Putri Anjani dan Yuyi Trirachma. Band ini terbentuk karena permintaan dari festival Europalia untuk membuat band tribute DARA PUSPITA, unit rock legendaris Indonesia yang memiliki cukup banyak penggemar di Eropa. Selepas tur mereka di Eropa, panggung demi panggung mereka jajaki mulai dari Merchandise Days gelaran The Adams hingga We Are Pop acara legendaris milik Hey Folks. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk serius menggarap album dan mengganti nama menjadi FLEUR! dengan format trio.

Foto oleh Yogi Kusuma

Pada bulan Maret 2020 mereka berhasil untuk merilis single perdananya “Muka Dua” yang diidentikan tidak jauh dari kata liar namun dibalut dengan beat yang tidak asing terdengar hingga musiknya terdengar manis dan danceable yang mengingatkan kembali pada hiphip hura hura milik Chrisye. Liriknya pun berisi tentang orang – orang yang tidak konsisten dengan perkataan maupun kelakuan yang ingin diakui dirinya di masyarakat. Memang terdengar sangat kontras perpaduan musik dan liriknya, seakan mereka ingin menghujat namun masih beretika dan manis terdengar hahahaha. Mereka pun sepakat dengan masih melekatnya nyawa dedari DARA PUSPITA dan masih menjadikannya sebagai refrensi dalam menulis lirik, walalupun identitas FLOWER GIRL mentransformasi menjadi FLEUR!. Membuat demo rumahan di rumah Yuyi, lagu “Muka Dua” mulai direkam pada pertengahan tahun 2019 di studio Velvet Pejaten dan Viki Vikranta drumer dari KELOMPOK PENERBANG ROCKET dipercayai mengambil andil dalam proses mixing dan mastering lagu ini dengan tujuan supaya mengghasilkan nuansa tata suara yang lebih klasik. “Lagu Muka Dua merupakan jembatan antara Flower Girls dan Fleur!. Masih ada referensi lama kita, tapi tetep jadi diri sendiri. Lagu ‘Muka Dua’ kita pilih karena liriknya paling dekat dengan realita dan beat-nya mudah untuk membuat kita bergoyang-goyang tipis (atau banyak)”, jelas Yuyi Trirachma.

Penulis oleh Alif Nugraha

Tidak heran musisi profesional seperti Kaka SLANK, Ale WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY hingga Soleh Solihun, dan Bude Sumiati pun memberikan komentar positif tentang single mereka ini. Musik mereka cukup mewarnai industri musik tanah air. Sembari menikmati waktu kalian di rumah pada masa pandemi corona ini, “Muka Dua” bisa dinikmati di media platform digital dan juga dikanal Youtube mereka, single ini sekaligus menjadi jembatan untuk memperkenalkan album barunya nanti yang akan dirilis tahun ini.

LEDAKAN KESENDIRIAN RIVABA BERWUJUD SEBUAH MINI ALBUM

Kesendirian, adalah suatu keadaan pengasingan atau kondisi diri yang terisolasi akibat kurangnya kontak dengan individu lainnya (sosial). Kesendirian juga dekat berkaitan dengan rasa sepi, terpuruk, hampa dan lain sebagainya. Beranjak dari sebuah kata yaitu kesendirian, terlahirlah mini album bertajuk “Soulitude” oleh musisi solois bernama RIVABA. Singer dan guitarist asal Bandung yang telah berdomisili di Bali ini, dalam mini album perdanannya mengusung jenis musik blues dengan tampilan format band di setiap aksi panggungnya. EP Album yang akhirnya rampung dirilis dalam proses penggarapannya menghabiskan waktu selama tiga tahun, melalui perspektifnya mengemas makna kesendirian dengan interpretasi yang jujur, ekspresif, namun penuh warna. Berikut adalah ulasan review album “Soulitude” dari total lima lagu yang dapat dinikmati di dalamnya (The Fear, Dying Soul, Take Me Home, My Angel dan I’m Leaving This Town), check this out!

“The Fear” merupakan single pertama sekaligus menjadi penuntun dalam menyusuri petualangan album ini, berkisahkan tentang seseorang yang tengah mengalami ketakutan yang nyata. Situasi terpuruk yang menjerat terasa begitu tidak adil ditambah tiada jalan keluar yang membuatnya semakin lemah tak berdaya. Dalam batin Ia bertanya-tanya kepada semua, seolah itu adalah satu-satunya hal yang dapat dilakukan demi mencari titik terang. Berbanding terbalik dengan lirik yang mengondisikan kefrustasian, RIVABA menghadirkan aransemen yang membakar gairah semangat. Hentakan ritme distorsi yang konstan dari awal hingga akhir dibumbui dengan pembawaan emosional, memaksa pendengarnya dengan natural menggerakkan tubuh mengikuti ketukan tempo yang tegas nan perkasa. Tentunya hal di atas menjadi keunikan tersendiri, dimana lirik yang tragis menangis berpadu akur dengan musik yang gagah bergairah. Kentalnya warna blues-rock pada melodi gitar pun menjadi energi yang menentang dalam roh lagu ini, dipermanis dengan part reff yang menggunakan tehnik falset sahut-menyahut dengan vokal yang berat.

Menyeberang mendengarkan track nomor dua di album ini, disuguhkanlah single berjudul “Dying Soul”. Ketukan drum yang asyik menyapa telinga, tak lama kemudian terdengar lengkingan gitar yang merdu, menambah nuansa groovy penuh penjiwaan (soulful). Dengan tempo yang agak lambat, menjadikan lagu ini begitu elegan dan sempurna dinikmati dengan memejamkan mata sembari menjentikkan jari. Pada klimaksnya lagu ini memberikan potongan pecahan suara wanita yang membisikkan kalimat: “Save me poeple.. poeple-poeple save me..” yang menggema berulang-ulang disambung RIVABA mengucap potongan lirik lainnya, menggiring pendengar merasa rileks mengawang.

Berpindah pada track ketiga, “Take Me Home” meningkatkan mood ceria dengan alunan gitar yang berliku-liku. Sekilas mengingatkan pada sebuah lagu berjudul “I Don’t Need No Doctor” versi JOHN MAYER, namun itu tidak berlangsung lama, lagu ini kembali menjadi dirinya dengan aksen blues-funky yang membius dan terdengar meriah. Seperti lazimnya alunan musik blues, pada part melody guitar begitu memanjakan kepuasan telinga. Menjelang akhir, lagu menjadi semakin kaya akan sentuhan improvisasi pada musik dan vokal.

Penulis oleh Gungwah Alit

“My Angel” menjadi track berikutnya, lagu yang bertemakan terpikatnya laki-laki dengan seorang wanita yang hadir bak malaikat, membuatnya terbang melayang-layang. Dimulai dengan intro yang terkesan manis, tidak meninggalkan karakter alunan gitar RIVABA, justru semakin membangun spektrum yang intim akan nuansa cinta pada lagu ini. Lirik penuh pujian akan terbuainya seseorang yang kasmaran pun bertabur sepanjang lagu dan membekaskan hasrat “seksi” pada musik secara keseluruhan.   

Tibalah pada track terakhir yang berjudul “I’m Leaving This Town”, terasa paling berbeda di antara 4 lainnya. Aransemen sederhana dengan format akustik menghadirkan kesan minimalis yang sangat melekat di telinga. Hal itu dikarenakan oleh pemilihan petikan gitar yang menghadirkan warna delta blues terasa menyatu dengan vokal suara RIVABA. Magisnya, lagu ini dapat memindahkan pendengarnya ke dalam suasana khayal layaknya tengah berada di sebuah Bar, persis seperti adegan film-film ala koboi. Sebuah lagu ringan yang candu untuk didengar berkali-kali.

Perilisan EP Album “Soulitude” telah terkonsep dengan apik, baik dari segi bunyi, lirik, maupun aransemen. Urutan perpaduan kelima lagu juga terasa sangat tepat dan komplit, terdapat naik-turunnya nuansa musik yang membawa pendengar larut ke dalam musikalitas RIVABA. Meski demikian, album yang berisikan lagu-lagu easy listening ini,pada beberapa bagian tertentu terdapat penggunaan pola yang sama sehingga mudah untuk ditebak atau kurang menghadirkan element of surprise. Mencapai kesimpulan, mini album yang mengemas lima lagu dan seluruhnya berbahasa inggris ini, layak menjadi koleksi pribadi dan cocok menemani aktivitas sehari-hari. Selamat untuk RIVABA atas perilisan EP Album “Soulitude”, semoga ke depannya menghadirkan karya-karya yang terus meningkat!

MASIH DALAM PENGURUNGAN DIRI DI RUMAH, FUZZY, I TELAH MEMUNTAHKAN SINGLE BERTAJUK “AMBIGUITY”

Bicara tentang skena musik Bandung tidak akan habisnya kita bicarakan. Seperti kalian tahu juga band – band yang lahir di Bandung juga sangat berkualitas seperti BURGERKILL, JASAD, JERUJI, MESIN TEMPUR, SUCCUBUS dan masih banyak lagi yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu. Salah satunya FUZZY, I.

Artwork oleh Egi Hisni

Barisan kuintet rock ini terdiri dari Egi Hisni (vokal), Alyuadi Febryansyah (gitar), Fathara Risqi (bass), Dissa Kamajaya (squencer/synthesizer) dan Hendrawan Saputra (drum) yang dimana barisan ini adalah barisan terbaru dari mereka. Pada tahun 2019, lebih tepatnya pada tanggal 23 Agustus, memuntahkan maxi-single bertajuk “Transit” berisikan tiga lagu diantaranya “Jazzy, I”, “Transit”, dan “No” yang dilabeli oleh Six Thirty Recordings dan kali ini pada tahun 2020, mereka memuntahkan single lagi yang berjudul “Ambiguity” pada bulan lalu. Gelap, panik nan cepat adalah kata yang pas untuk mengungkapkan rasa pada lagu ini. “Laughing at Death. Fatigue. Hungry and Cold. Happy in Chaos. Study the Fear. Doom Attribute. We Were Just Werned” adalah penggalan dari liriknya dengan maksud keinginantahuan untuk masa di dunia setelah apokalips yang dimana bait tersebut menggambarkan kehidupan yang tanpa ada tujuannya. Bagian pertama dalam musiknya, terdapat suara sirine yang bertanda saatnya untuk berlari entah kemana. Kemudian dilanjutkan pada tempo cepat layaknya kita dituntut untuk terus berlari sampai kita menuju ruang hampa dan panik. Sentuhan progressive pada bagian reff yang membuat bingung tapi dimainkan dengan porsi yang pas membuat harmoninya menjadi indah. Edan!! Suara vokalis yang begitu datar dan gelap menggambarkan situasi dimana kita sedang tidak bersama rekan dekat maupun sanak keluarga yang menemani di dunia untuk selalu mencari jalan keluar dari kesepian tersebut. Musik yang begitu canggih menurut saya dan tanpa disadari, makna lagu ini juga sangat bersentuhan pada kondisi yang kita alami saat ini yaitu Covid 19 yang sedang berlangsung dengan cepat penyebaran virusnya. Secara tidak langsung lagu ini bisa mewakili kondisi yang suram pada Negara kita! Tidak tahu akan cepat selesai atau akan terus dihantui oleh virus ini. Godspeed!!

SETELAH BERHASIL MENGELUARKAN “API CEMBURU”, WINNIE THE BLUES MENYIARKAN SINGLE KEDUA BERJUDUL “KARENA CUACA”

Jenis musik blues sudah banyak diminati oleh musisi Bali jaman sekarang, walaupun kondisi Bali masih kuat dengan jenis musik punk, rock dan metal. Salah satunya adalah WINNIE THE BLUES. Trio blues rock ini terbentuk di Denpasar, Bali pada 2 April 2012 dengan formasi awal yang diisi Tejak (gitaris dan vokal), Dion (bass) dan Ade (drum). Pada tahun 2018, Dion digantikan posisinya dengan Pasek sebagai additional player untuk mengisi posisi yang kosong. Mereka juga sudah mengeluarkan single pertama dengan judul ”Api Cemburu” yang sudah bisa didengarkan di semua digital platform. Kali ini pada tahun 2020, mereka mengeluarkan satu lagu lagi yang berjudul “Karena Cuaca”. Dua lagu yang telah rampung ini, direkam di sebuah studio milik gitaris terkenal band alternative rock asal Bali, Doni (Lolot) dan mixing mastering dilakukan di Kubuku Studio. Kala itu Dion masih mengisi bagian bass pada sesi rekaman dua lagu tersebut.

Melihat dari judul lagunya, lagu ini menceritakan dimana situasi cuaca yang tidak bisa kita pahami, kadang hujan, kadang panas, kita tidak bisa memprediksi, sedangkan melakukan aktivitas haruslah sama. Sama yang saya maksud adalah tidak menghiraukan cuaca sedang panas maupun hujan, aktivitas yang sering kita lakukan haruslah tetap dijalani karena cuaca yang tidak bisa kita prediksi ini, sepatutnya tidak menjadi suatu kendala setiap melakukan aktivitas apa pun jenisnya.

Mari kita simak liriknya!

Di musim panas ini yang harus dijalani

Selalu bangun pagi tuk menjalani hari

Mencoba tuk melawan teriknya matahari

Yang tak ingin berkawan

Yang ingin kau sembunyi

Ingin kau sembunyi

Terus melangkah jangan menyerah karena cuaca

Kuat kan diri berharap hari esok kan jauh lebih baik

Di musim hujan ini juga harus dijalani

Susah tuk bangun pagi tuk menjalani hari

Mencoba menghindari air dari sang awan

Yang ingin kau sembunyi

Dalam rumahmu yang aman

Rumahmu yang aman

Jangan coba hadapi hari hanya dengan senyuman

Karena senyuman tak kan cukup merubah panas dan hujan

Foto: dokumentasi oleh Winnie The Blues

Melihat lirik yang sederhana dan biasa saja, pasti akan langsung mengerti apa maksud dari lirik tersebut. Seperti bermain aman dengan tata bahasa yang bisa sangat dimengerti ini. Dari segi tata suara, secara otomatis menganggukan kepala dengan alunan nada yang up beat, sekaligus tidak memberikan ruang untuk diam. Tata suara ala JOHN MAYER, dapat dengan jelas mengenali musik mereka seperti apa. Bagian akhir lagu ketika lirik “Karena senyuman tak kan cukup merubah panas dan hujan”, pada bagian vokalnya diberi sentuhan efek toa. Menurut saya, efek itu cukup tepat disisipkan pada bagian akhir. Setelah itu dibabat habis dengan melodi yang sederhana, tidak berlebihan, dengan porsi yang pas, layaknya bercinta dengan pasangan sendiri, menjadikan bagian ini bagian yang indah sebelum menyelesaikan sebuah bagian akhir lagu. Semoga WINNIE THE BLUES bisa mengeluarkan lagu – lagu yang ciamik lagi dari lagu – lagu yang kini telah disiarkan ke publik. Ditunggu albumnya! Godspeed!

PUBLIKASI VIA KANAL YOUTUBE, MARCO PUNX TELAH MERILIS SINGLE BERTAJUK “PUNX CI NAWANG”

Maraknya band berbahasa Bali bermunculan seperti Lolot, Triple X, Leeyonk Sinatra, Bintang, Kiss dan lain-lain, salah satunya Marco Punx yang membawa suasana baru dengan mengusung jenis musik alternative punk. Band yang terbentuk tahun 2008 ini telah memiliki beberapa lagu yang telah dipublikasi via kanal Youtube diantaranya ‘Tresna Setonden Mati’ (2015), ‘De Ngutang Lulu Ngawag – Ngawag’ (2016)  dan ‘Jelema Serakah’ (2017). Kali ini ditahun 2020 mereka mengeluarkan satu lagu yang berjudul ‘Punx Ci Nawang’ yang dipublikasi via kanal Youtube juga dan sempat melakukan launching video klip pada tanggal 30 Januari 2020. Beberapa musisi ternama  yang ikut andil dalam launching video klip ini diantaranya Made Bawa (Lolot), Bayu K.W dan DJ Saylow yang diadakan di Antida Soundgraden.

Di jumah tiang manting. Di jumah tiang ngempu. Di jumah tiang nyampat. Apang pada imbang” adalah salah satu penggalan liriknya. Terlihat jelas bahwa pada lirik tersebut menceritakan tentang seorang ayah, sekaligus sebagai suami yang mengayomi keluarganya dan seorang musisi yang harus pentas dari panggung ke panggung lainnya bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Bukan hanya semata – mata melakukan tur atau membuat karya saja, tapi bisa juga melakukan pekerjaan rumah untuk membantu meringankan pekerjaan sang istri dirumah. “Punx Ci Nawang merupakan sebuah lagu yang sangat berarti bagi saya. Lagu ini adalah cerminan dari kehidupan saya di mana saya bisa menjadi figur ayah, suami, dan juga penulis lagu serta vokalis band seperti saat ini dalam sekali waktu. Saya menyadari pilihan saya untuk menjalani itu semua sangat sederhana” ungkap Comar sebagai vokalis dan gitaris Marco Punx.

Ayyiek Falgunadi adalah sutradara dan konsep dari video klip mereka. Ayyiek mengatakan bahwa “Konsepnya diambil dari kehidupan Comar. Intinya, perbedaan kehidupan dia di rumah, sebagai suami dan bapak dengan kehidupan dia sebagai personil band”. Konsep video klip yang sederhana dan layaknya konser musik yang sesungguhnya, menurut saya ini video klip ini cukup mahal. Konsep pengambilan gambar yang direkam di sebuah rumah yang sederhana dan aktivitas mencuci baju, mencuci piring, menyapu dihalaman rumah dan berkumpul bersama keluarga kecil bisa mewakili bagaimana maksud dari lirik tersebut. Untuk para ayah yang masih bermusik dan masih melakukan kegiatan manggungnya, video klip ini bisa menjadi contoh yang baik. Keseimbangan hobi dan mengurus keluarga memang cukup sulit, proses adalah kata yang pas untuk mewakili ini. Semoga dari menonton video klip ini bisa menyadarkan semua orang dan bisa memahami maksud dari video tersebut! Godspeed!

MORGENSOLL “PROLOGUE TOUR” (WI KOPI – 12 MARET 2020)

Jika berbicara tentang Bali, kebanyakan orang berpikiran bahwa Bali menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing. Bukan hanya itu saja, sekarang Bali mulai menjadikan daerahnya sebagai tempat destinasi tur para musisi lokal maupun mancanegara.

Tepat pada tanggal 21 November 2019 lalu, Bali kedatangan band asal Amerika, EYE HATE GOD dan RAJASINGA yang diinisiasi oleh Maternal Disaster. Selang sebulan, tepatnya pada tanggal 21 Desember 2019, band lokal asal Jakarta, AVHATH turut serta mengunjungi Bali. Berlanjut di bulan Februari 2020, disusul oleh band yang berasal dari Australia, CHINA BEACH. Tepat di bulan yang sama, Bali juga kedatangan band asal Texas, POWER TRIP yang diinisiasi oleh Naskleng 13. Beranjak dari Surabaya, ELECTRIC BIRD juga tidak ketinggalan turut berpartisipasi untuk singgah ke Bali. Berdatangannya serangkaian panjang band-band yang bertamu ke Bali belum terhenti sampai disitu, bulan Maret 2020, band yang berasal dari Yogyakarta, yaitu DEADLY WEAPON dan SENYAWA ikut membakar antusias penikmat musik Pulau Dewata. Kini yang paling anyar, Bali kedatangan band yang mengusung jenis musik post metal asal ibukota Jakarta, MORGENSOLL dengan tur yang diberi nama “Prologue” yang diinisiasi oleh Ampvra Bhatara.

Foto: Dharma Krisnahadi

Acara ini diselenggarakan di Wi Kopi, Hayam Wuruk, Denpasar, Bali. Turut juga tampil band lokal Bali yang memeriahkan acara ini, seperti: SHANKAR, KANEKURO, SATIRE, BVRGAN dan ROLLFAST. Tepat pada pukul tujuh malam band pertama yang menunjukan aksinya adalah SATIRE. Meski masih tampak sepi di area pit, mereka tetap melibas set lagu yang telah disiapkan. Membawakan beberapa nomor seperti “Ace of Spades”, “Sangkakala Apokalips” hingga “Pelacur Tua” sebagai nomor andalan mereka.

Cukup puas dengan penampilan mereka, posisi digantikan oleh SHANKAR. Tampil dengan formasi tak lengkap, tidak mengganggu mereka dalam beraksi. Terdapat beberapa gangguan teknis yang segera diselesaikan oleh tim sound system menjadikan aksinya tetap berlanjut. Melibas habis set list untuk memancing rusuh, namun tetap saja belum merusuh meskipun para headbangers mulai memadati area pit. Membawakan lagu dari SLEEP yang berjudul “Dragonaut” sebagai set list berbahaya mereka. Seiring area pit mulai nampak penuh, formasi mereka pun digantikan oleh KANEKURO. Kuartet post punk yang begitu enerjik mampu membuat suasana semakin liar. Ketika mulai panas dan menggebu-gebu, mulai terlihat stage diving mengudara dengan bahagia. Sempat membawakan nomor dari DEAD KENNEDYS yang berjudul “Too Drunk To Funk” menjadikan area pit semakin menggila. Kemudian posisi mereka tergantikan oleh MORGENSOLL.

Akhirnya pertunjukan mereka yang ditunggu – tunggu oleh headbangers pun tiba. Alkohol dimana – mana, hingga saya pun tak ingat posisi dimana saya berada hehehe, meski begitu saya cukup jelas mendengarkan output sound mereka. Cukup apik dan mampu merasuki headbangers untuk merusuh di area pit sekitar. Silih berganti muncullah ROLLFAST. Membawakan materi baru yang akan menjadi album penuh yang dirilis oleh Lamunai Records salah satunya Pajeromon, menjadi nomor bahaya sebagai pelanjut liarnya para headbangers. Pada album “Lines Oil, Dream is Pry (2015)”, “Electric Illuminator” menjadi nomor nostalgia tersendiri bagi saya. Mungkin headbangers yang hadir malam itu sepakat bahwa nomor ini menjadi nostalgia hehehe. Sebagai penutup acara “Prologue Tour” kali ini, tersisa BVRGAN dengan dark ambient khasnya. Area yang cukup luas menjadikan suasana meredam serta semakin intim dikarena pit telah sepi. Berakhirlah acara ini dengan puas. Semoga makin banyak lagi bermunculan sahabat-sahabat musisi yang berkunjung ke Bali dengan membawakan tur band yang keren. Sukses terus buat Ampvra Bhatara. Semoga selalu konsisten dan kompak! Godspeed!

COCONIGHTMAN YANG SYAHDU NAN JENAKA

Hujan lebat, disertai  angin kencang, pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kedai Sekopi nampak riuh bergesek, panitia penyelenggara merapikan sound system, mixer, kabel, stand mic yang tadinya di luar, di bawa ke dalam kedai. Saya masih asik menyesap sebatang rokok di depan pintu kedai, sesekali rintik hujan mengenai tangan dan membelah kepulan asap yang saya semburkan, orang-orang yang niatnya nongkrong sambil menikmati musik, harus berburu tempat teduh di beberapa sudut gedung di luar kedai.

“Kita jamming aja di dalam, tanpa sound” kata Santos sang manager kepada saya,  menangkap gelagat saya yang ingin bertanya.

Malam itu tepat pada tanggal 21 Februari 2020 saya berniat untuk menonton aksi panggung Coconightman di acara Kongkokongkow sebuah platform gigs musisi indie yang bergerak bersama atas semangat kolektif.  Lantas saja Ucup, Rama dan Rian menyiapkan alat-alat mereka, menata dengan sedemikian rupa panggung dadakan di depan meja kasir. Di luar masih gerimis, lampu kuning berpendar  di dalam kedai, sesekali mesin kopi mendengung, sesekali penonton seliweran di depan penampil. Suasana yang sungguh nikmat, maklum sudah lama sekali saya tidak menonton gigs dengan duduk santai, sambil bertepuk tangan riang, ditambah suasana hangat  mendayu seperti itu.

Ada empat lagu yang dibawakan Coconightman malam itu Tikus-Tikus, Aku Manusia, Canggu People dan Pak Haji Santoso. Format musik mereka sederhana, syahdu namun jenaka. Drum set sederhana, gitar dan ukulele komposisi ini menghasilkan suasana yang pas di tengah suasana hujan. Ucup sang vokalis yang rangkap bermain gitar  juga memiliki daya tarik tersendiri dalam aksi panggungnya, ia beberapa kali melontarkan banyolan, serta tingkah polah yang tidak  bisa ditebak. Misalnya saat Rian tengah bermelodi di lagu Tikus-Tikus dengan sengaja Ucup mendatangi ukulele Rian, hendak mengeraskan volume suara ukulele. Sontak semua penonton tertawa dan tersenyum.

Bagi saya vokal Ucup yang khas itu, membangunkan endapan memori saya tentang pengamen-pengamen di terminal bus Bungur Asih, Surabaya. Dengan vokal nyaring dengan kalimat yang cepat seolah tanpa dipikir, keluar saja kalimat itu dari mulutnya. Misalnya ketika menawarkan teman-teman untuk mendengarkan lagunya  yang sudah beredar di dunia maya,

 “Ya lagu-lagu kami, bisa didengarkan di youtube, wechat dan tinder” katanya sambil nyengir. Sementara jika ditelisik dari lirik keempat lagu Coconightman menuntun kita untuk berfikir ulang dalam memaknai diri sebagai manusia. Misalnya dalam lagu Tikus-Tikus, eksistensi manusia ditengah kota urban mereka simbolkan sebagai bangkai tikus yang mati di atas aspal karena terlindas kendaraan bermotor. Bagi saya tikus yang biasanya identik dengan koruptor, atau KKN di tangan mereka tikus menjadi binatang yang kehilangan dirinya ditengah carut marut infrastruktur kota, pengambilan sudut pandang yang jenaka. Sementara Aku Manusia, Canggu People, Pak Haji Santoso berkisah tentang manusia dengan hal-hal seksualitasnya.

Penulis: Yan Pangus

Foto: Coconightman

Dengan lirik yang nakal, bernas, jujur apa adanya namun observatif. Simak liriknya di bawah.

Potongan lirik lagu Pak Haji Santoso

“Pacarku dulu cantik dan lugu

aku jamu-jamu

saat itu aku belajar bercumbu diam-diam

dalam kamar gelap tapi nikmat.

Oh nikmatnya, pelan-pelan

Ketagihan

Coba sekali kok nagih

Dua kali tambah enak

Tiga kali tak berhenti

Empat kali takut mati

Awas cepat cepat cepat tobat

Jauhi klenik maksiat

Jangan terlambat pulang kerumah”

Potongan lirik Canggu People

“Punya lubang, masih cari lubang

Dasar manusia tak ada puasnya

punya batang , masih cari batang

Dasar nafsu wanita suka eksplorasi

……….

Pacar aku asli dari England

Delapan belas tahun sudah turun mesin

Suka oli, piston ganti-ganti, awas berbahaya

badan jadi dua”

potongan lirik Aku Manusia

“hey namaku juwita dari suryakarta

hadapi hidup sulit

karena gender ku berbeda

waktu masih kecil

ibuku berkata

jadilah laki-laki lembut

dan bijaksana

heiiiiiii

banyak yang bening-bening

tetapi sudah longgar

banyak yang besar dan berotot

tetapi dia melambai

pilihlah saja aku

wanita sempurna

mesti dulunya aku pria

tapi aku berhak bercinta”

Lirik-lirik di atas dibalut dengan makna yang gampang dicerna, tanpa layer-layer makna yang kadang sulit untuk dimengerti. Namun beberapa liriknya mengandung konotasi porno menggunakan simbol-simbol kebendaan dengan jalan cerita yang nakal dan menggelitik. Hal ini mengingatkan saya sewaktu kecil ketika menonton drama gong, lawakan porno selalu menjadi favorit yang ditunggu-tunggu penonton, bahkan anak-anak kecilpun ikut mengkonsumsi lawakan macam itu. Namun berbeda ceritanya hari ini, lawakan porno hanya sesekali dibawakan oleh pemain lawak tradisional di Bali, karena diwacanakan kurang mendidik dan merusak moral. Coconightman semestinya memandang hal ini sebagai wacana berkelanjutan,  lirik yang terlalu vulgar akan mengundang berbagai macam  presepsi, yang kemudian menghasilkan serangan-serangan pendengar yang fanatik terhadap gerakan-gerakan kemanusiaan.

Kalau saya membacanya sebagai ruang kejujuran dalam realita bermasyarakat, jujur menangkap peristiwa, kemudian menggubahnya menjadi lagu, tidak ada yang salah sebenarnya, kan kesenian yang kuat adalah kesenian yang tidak berjarak dengan rakyat. Namun perlu juga terdapat suatu tawaran pemikiran dalam memandang suatu peristiwa, tidak semata-mata mengangkatnya  menjadi karya.

Disisi lain yang menarik dari trio ini ialah mereka perantau dari luar Bali, karena sudah lama berkehidupan di Bali, kemudian membaca Bali lewat musik tanpa tedensi apapun, bahkan tanpa memori kultural yang biasanya menjadi pertimbangan  bahkan kadangkala menjadi penghalang. Misalnya bagaimana mereka membaca Canggu sebagai distrik hura-hura, ruang campur baur kebudayaan sebagai daerah wisata,  hingga banyaknya pertemuan ke arah sex maha bebas. Pembacaan ini tidak melewati konteks pariwisata dalam diakronik waktu, namun Canggu yang berkembang hari ini saja. Lebih menariknya lagi mereka terbiasa mengamen di beberapa café di sana, lagu Canggu People adalah produk observatif dari pengalaman-pengalaman mereka atas kehidupan di Canggu.

Empat lagu telah dinyanyikan malam itu, saya bertepuk tangan puas sembari menyalami mereka satu persatu. Lalu keluar kedai mencari tempat untuk menyesap rokok. Sambil memikirkan kawan-kawan rantau lain yang berkarya di Bali, ingin juga rasanya merantau di suatu tempat, membaca tempat baru, menggali cerita yang sama sekali baru, lalu menjadi premis-premis dalam berkarya.

Gawai saya berdering pesan masuk dari mama,

“Jung cepat pulang, besok ada upacara sembahyangan, tolong wakilkan yah, ayah tidak bisa datang” (tugas lelaki Bali) menembus gerimis, saya pun beranjak pulang.

SENYAWA “NUSANTARA” CHAPTER I (GEO OPEN SPACE – 2 MARET 2020)

Mendengar nama band SENYAWA bagi kita sudah tidak asing lagi. Band yang mengusung jenis musik experimental ini telah melakukan turnya yang bertajuk “Nusantara Chapter I”. Tur ini telah berlangsung di tiga titik dan kini destinasi ketiga adalah Bali yang diinisiasi oleh Chaos Non Musica. Acara ini diselenggarakan di GEO Open Space, Pasar Kedampang, Kerobokan, Bali. Pada pukul lima sore, sesi diskusi bersama SENYAWA mengenai berbagai pengalaman mereka dalam konsep turnya, bagaimana proses kreatif yang dilakukan selama ini, sampai akhirnya menelurkan beberapa album. Serta yang terbaru, mereka akan membuat Scholarship bagi siapa yang ingin bergabung didalamnya untuk memperoleh beasiswa dengan keahlian masing-masing yang dimiliki. Salah satu misi yang amat bagus untuk sebuah band. Salute!

Pada pukul tujuh malam, acara dimulai dengan pertunjukan pertama oleh GRINTABACHAN. Sangat gelap nan mencekam adalah kalimat yang pas untuk menggambarkannya. Memadukan musik noise dan lirik mantra yang dimasukan pada musiknya, saya pribadi merasakan suasana perang yang cukup kelam dengan visualisasi yang cukup apik, menjadi latar belakang dari pertunjukannya. Sangat puas dengan penampilan dari GRINTABACHAN, posisinya digantikan oleh MATRIX COLLAPSE. Dub/noise experimental ini berkolaborasi dengan penari latar yang dimana gerakan seorang penarinya terbias mengenai sensor yang telah disediakan sekaigus menjadi perpaduan visual yang apik. Sangat canggih! Saya pun cukup terkagum oleh mereka.

Foto oleh Dharma Krisnahadi

Terpuaskan oleh MATRIX COLLAPSE, band yang ditunggu – tunggu, SENYAWA akhirnya naik keatas panggung. Sebelum saya mendeskripsikan penampilan dari SENYAWA, acara ini memiliki dua panggung yang tidak saya sadari sebelumnya. Saya tepat berada ditengah – tengah panggung utama dan dengan sopan salah satu panitia menyuruh saya untuk minggir. Ternyata dibelakang saya adalah panggung kedua yang dimana MATRIX COLLAPSE beraksi. Sebuah tata panggung yang sangat kreatif bagi saya. Best!

Baik, kita kembali dengan SENYAWA. Pada lagu pembuka, masih tampak sepi pada area pertunjukkan. Alunan distorsi dan perpaduan suara vokal yang horor, layaknya seperti musikalisasi puisi, dibuat sedemikian rupa untuk memfokuskan perhatian para penontonb kepada mereka. Entah kenapa saya terlarut dan seketika terhipnotis untuk menikmati pertunjukan musik mereka. Memasuki lagu ketiga sempat muncul kendala dengan aliran listrik, namun itu bukanlah suatu masalah yang berlangsung lama untuk berhasil diatasi. Mereka melanjutkan aksinya dan perlahan sudah mulai nampak ramai di area pertunjukkan. Menenggak beberapa gelas arak menjadikan suasana semakin asik untuk menikmati musik mereka. Setelah menyelesaikan lagu terakhir pada daftar lagu yang disiapkan, para penonton meneriakan “we one more… we one more… we one more…!” dan melalui sedikit pertimbangan, merekapun mengiyakan keinginan para penonton. Menambah satu lagu terakhir sebagai lagu penutup, aksi mereka pun akhirnya benar-benar usai.

Acara berakhir dengan sangat memuaskan. Semoga SENYAWA menghadirkan materi – materi yang lebih liar lagi dari sebelumnya. Sukses terus juga buat Chaos Non Musica untuk membawa band gila lainnya. Godspeed!

MENELURKAN SEBUAH SINGLE BERTAJUK “PAJEROMON” MELALUI VIDEO LIRIK VIA YOUTUBE, ALBUM TERBARU ROLLFAST AKAN DIRILIS!

Bagi kawan-kawan di Bali, nama Rollfast tidaklah asing lagi. Memainkan Psychedelic Rock (anggap saja begitu, haha) pada era Hardcore, Metal, Punkrock dan sebagainya dan Rollfast berhasil menciptakan ‘pasar’nya pada era itu dan menurut saya Rollfast membukakan jalan untuk kawan-kawan yang akan membentuk sebuah band untuk berani memainkan musik diluar ‘pakem’ yang sudah ada, dan terbukti, banyak band-band baru dengan bermacam genre bermunculan pada saat itu dan tak sedikit juga yang terinspirasi oleh Rollfast.          

Transformasi yang sangat epic dari album “Lanes Oil, Dream is Pry”, single “Off! The Twisted!”, “Whirlpool” hingga pada tahap “Pajeromon” yang baru saja dirilis dalam bentuk video lirik pada kanal Youtube mereka. Dibawah naungan LaMunai Records “Pajeromon” dirilis pada hari Valentine, mungkin ada kaitannya dengan ‘cinta merah muda’atau ‘ikan tercinta’? haha.

Penulis: Gvngyoga Prawira           

Foto: Rollfast

 “Pajeromon” adalah lagu pertama yang dirilis Rollfast yang memakai Bahasa Indonesia, lirik sarkastik yang membuat saya tertawa kecil ketika membacanya. Dikutip dari akun Youtube Rollfast, nama Pajeromon adalah hasil dari pergabungan antara nama mobil Pajero yang menginterpretasi maskulinitas/kemapanan, ‘Jero’ sebuah titel yang digunakan di bali untuk seseorang yg memiliki tanggung jawab moral dalam pelayanan sekala/niskala. dan kata Romon yg berarti kotor dalam Bahasa Bali.

Ajik datang turun dari Pajero mencari cinta merah mudanya dan disambut dengan ketukan drum ala House Music sehingga sulit untuk tidak menggoyangkan badan. Riff gitar yang kadang menggelitik telinga dan juga terkesan agak seram bak monster Pajeromon yang merupakan karakter fiksi yang dibuat Rollfast sendiri, ditambah dengan visual tiga dimensi membuat saya semakin ‘masuk’ kedalam lagu Pajeromon, di Simpang Enam. Asik berenang Bersama ikan-ikan sembari menunggu ‘pecah’ pada bagian ref, sampai pada delapan kali hantaman dentum kick drum dan mulailah sang Pajeromon meliar seolah paling perkasa di lantai dansa. Menjadi semakin penasaran akan album baru Rollfast, eksplorasi yang sangat pol dan juga berani. Kabarnya Rollfast akan merilis single lagi pada bulan Maret mendatang, mari kita tunggu saja sembari berenang bersama ikan-ikan.

BUSH FIRE APPEAL – (16 FEBRUARI 2020 – DEUS EX MACHINA)

Berangkat pada pukul setengah enam sore menuju Deus, ditemani album ‘Feast’ dari ALTERBEAST, menghilangkan rasa bosan saya dijalan dengan kemacetan yang entah kenapa jalanan itu bisa menjadi padat. Cukup kesal dengan kejadian tersebut karena tergesa-gesa, kecepatan kendaraan yang saya kendarai dengan laju yang cukup kencang, akhirnya saya sampai juga di Deus. Saya sempatkan menuju bar untuk membeli tiga botol bir sembari menunggu acara mulai.

Pukul tujuh lewat lima menit acara mulai dengan band pembuka DUNIA KETIGA. Trio akustik ini sangat menawan saat diatas panggung. Walaupun hanya duduk saja, tapi agresifnya diatas panggung menjadi pusat perhatian saya. Tata suara yang begitu apik membuat saya sangat kagum dengan band ini. Salut! Setelah puas dengan mereka, posisi mereka digantikan oleh RIVABA. Mengusung jenis musik blues rock dengan sangat ekspresif, memancing para penonton untuk berdansa bersama. Sempat membawakan nomor dari JIMI HENDRIX, album ‘Electric Ladyland’ (1968) yang berjudul ‘Voodoo Child (Slight Return)’ dengan versi RIVABA, dan mulai tampak ramai para penonton maju untuk berdansa. Perhatian semua orang tertuju pada sang gitaris yang dimana aksi panggung yang epik saat melodi menjadi menariknya untuk ditonton.

Setelah selesai dengan set list yang dibawa, NAVICULA mempersiapkan alat perangnya. Masih pada album ‘Earthship’ (2018), nomor ‘Di Depan Layar’ sebagai pembuka aksi mereka. Setelah menyelesaikan nomor – nomor pada album terakhir mereka, Robi berkata “awas lagu ne sing ade pogo nah! (awas lagu ini tidak ada yang pogo ya!)”, nomor ‘Mafia Hukum’ menjadikan riuhnya area dansa. Benar-benar terjadi bli hehehe. Pada album ‘Beautiful Rebel’ (2007), nomor ‘Televishit’ menjadi salah satu kerinduan saya dan menjadikan nomor ini aksi terakhir mereka. Puas dengan mereka, saatnya posisi mereka digantikan oleh serdadu reggae, MARAPU. Mendengarkan jenis musik reggae, secara otomatis orang-orang akan berdansa dan mereka mampu membuat itu. Sudah jelaskan bagaimana kondisi itu terjadi.

Foto: Dharma Krisnahadi

Saatnya band terakhir sekaligus band penutup acara Bush Fire Appeal ini ada THE HYDRANT. Unit rockabilly tersebut paham bagaimana seharusnya memperlakukan penonton dengan asik dan ya, selalu berhasil dengan hal tersebut. Mereka salah satu band yang wajib kalian tonton!

Acara berjalan dengan lancar dan sukses. Semoga kita kembali lagi dengan liputan – liputan selanjutnya. Mohon maaf jika tulisan ini masih berantakan karena saya masih perlu banyak belajar untuk menjadi penulis yang bagus. Godspeed!

POWER TRIP – NEWS UPDATE

Jika ada satu band thrash metal yang telah melampaui semua harapan dalam lima tahun terakhir, itu adalah POWER TRIP. Mereka melepas album yang bertajuk Manifest Decimation (2013) yang dirilis dibawah naungan Southern Lord Record. Ilustrasi sampul Manifest Decimation dikerjakan oleh seniman lukis asal Italia yaitu Paolo Girardi. Album perdana dari POWER TRIP berisikan 8 tracks didalamnya. Raw, downstroke catchy riff dan reverb pada vokal juga sound drum dirangkum dengan sangat baik. Intro lagu pembuka Manifest Decimation adalah intro yang sangat apik dan selanjutnya langsung dihajar tanpa basa-basi dan pastinya mosh-pit akan pecah pada menit ke empat pada track Manifest Decimation. Diberi jeda sedikit pada “Crossbreaker” dengan sentuhan Hardcore yang kental dan dilibas lagi dengan nomor-nomor berikutnya hingga ditutup dengan “Hammer of Doubt”, nomor yang sangat cocok sebagai penutup. Hajar tanpa ampun!POWER TRIP sangat dibicarakan khususnya di Bali pasca album kedua POWER TRIP dirilis yaitu Nightmare Logic (2017), dengan single andalan “Executioner’s Tax (Swing of the Axe)”. Pada album ini, ilustrasi sampul kembali dikerjakan oleh Paolo Girardi yang menurut saya artworknya sangat mewakili musik POWER TRIP dengan sound kotor nan primitif dan juga masih tetap rilis dibawah naungan Sothern Lord. Sound old school dan pertunjukan live parau, band yang berasal dari Texas ini membuktikan dengan adanya album ini bahwa mereka bisa dibilang band metal Amerika terbesar dalam dekade terakhir.

Kemampuan POWER TRIP untuk memanfaatkan nostalgia mereka dengan thrash dan membuat metal terasa segar kembali membuktikan bahwa shred lord klasik seperti Ride the Lightning bisa tidak hanya dihormati, tetapi ditingkatkan. Kita harus melihat ke masa lalu kita untuk membentuk masa depan kita. Pada Nightmare LogicIf Not Us Then Who” pendengar diminta untuk “Get up, out of your cave and into the fire!”. Warna’ di Nightmare Logic hampir masih sama dengan Manifest Decimation tetapi pada album ini cabikan Blake lebih gahar. Setelah intro suara-suara gelap, POWER TRIP menyuguhkan groove down tempo pada track pertama di Nightmare logic yang secara langsung akan merangsang pendengar untuk menganggukan kepala. Solo gitar kasar yang merobek telinga pada Soul Sacrifice membuat pendengar lebih berapi-api. Disambut suara bagaikan teriakan kuda, track andalan telah dimulai, “Go on and look at you, today is your lucky day!” teriak Riley seakan-akan memberitahu bahwa “hari ini adalah hari keberuntungan saya karena mendengarkan “Executioner’s Tax (Swing of the Axe)” padahal akan dipenggal dengan sekali ayunan kapak, hahaha. Tak ada nomor yang tak penting pada Nightmare Logic, power! Salah satu lagu andalan mereka yang akan membuat lantai dansa rusuh.

          Urusan aransemen lagu dan produksi album, POWER TRIP selalu meningkatkan kelasnya, itu menjadikannya bukan hanya salah satu dari catatan band metal terbaik dekade ini, tetapi juga sepanjang masa! Setahun setelah Nightmare Logic, mereka merilis “Opening Fire: 2008-2014” yang menurut saya adalah pencarian jati diri mereka sebelum album pertama dan kedua karena sebagian nomor dari album ini mempunyai umur satu dekade bahkan lebih. Secara personal, cukup seru untuk mendengarkan album ini karena memiliki banyak ‘warna’. Bahwa level POWER TRIP terus meningkat hingga pada tahap single teranyar yang mereka rilis, yaitu “Hornet’s Nest” (2019). Tidak sabar menunggu mereka menelurkan album baru. Majalah Vice menempatkan album Nightmare Logic nomor 4 pada The 100 Best Album of the 2010’s. Sudah terbayang bagusnya album ini?

Pada bulan kedua di 2020 POWER TRIP melakukan tur Asia dan yang terpenting mereka menyinggahi Bali. Gigs POWER TRIP di Bali diorganisir oleh NK13 yang merupakan sebuah kolektif custom culture yang lebih condong ke motor. Saya rasa sang bassist akan senang karena yang saya tahu Chris Whetzel adalah pengendara Harley Davidson, tepatnya jenis Sportster kalau tidak salah Sportster 1200.

Terakhir, kalau boleh saya menyimpulkan, POWER TRIP terlahir dari cinta segitiga antara SLAYER, CRO-MAGZ dan OBITUARY. Haha!

Penulis: Gvngyoga Prawira & Bagus Pangestu

NOISEKLEENG VOL.1 (13 FEBRUARI 2020 – DONKEY SKATEPARK)

Bali adalah salah satu destinasi liburan yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan asing maupun lokal. Bukan hanya menikmati alamnya (walaupun sekarang sudah tidak indah lagi seperti diberitakan di google), tapi dari musik tradisional juga kita bisa nikmati. Selain musik tradisional yang aktif dikalangan sekaa banjar, musik modern pun menjadi konsentrasi anak muda sekarang. Dari pihak acara pun berhasil mendatangkan band – band berkualitas, salah satunya Maternal Disaster yang berhasil mendatangkan EYE HATE GOD tahun lalu. Kali ini dari NK 13 (Naskleng 13) berhasil mendatangkan POWER TRIP dengan nama acara Noisekleeng Vol.1.

. Acara tersebut diselenggarakan di Donkey Skatepark dengan daftar band lokal berbahaya diantaranya JANGAR, BERSIMBAH DARAH dan NATTER JACK. Telat satu jam dari rundown awal yang telah dibuat, Baskara dari vokalis MORT sebagai MC mulai berorasi sebagai tanda mulainya acara.

Tepat pukul tujuh lewat sepuluh menit, penampilan pertama ada JANGAR membawakan nomor “MSG” sebagai pembuka aksi dan dilanjutkan beberapa nomor berbahaya lainnya yang ada di album ‘Jelang Malam’. Sebagai penutup aksi, mereka membawakan nomor “Konstan” sebagai penghormatan terhadap sahabat yang telah pergi selamanya. Setelah berhasil menghangatkan suasana pit di Donkey Skatepark, walaupun masih tampak sepi diarea pit, posisi mereka digantikan oleh BERSIMBAH DARAH. Unit grindcore ini membuat area pit semakin liar. Nomor “Land of Terror” di album Land of Terror sebagai puncak liarnya para headbangers. Hentakan blast beat dari Indra dan distorsi dari Rico Anarco, tidak menghentikan keliaran suasana pit. Sebagai nomor andalan, “Biawak” menjadi penutup aksi mereka.

Kemudian unit punk, NATTER JACK bersiap – siap untuk menunjukan aksinya. Tidak kalah dengan JANGAR dan BERSIMBAH DARAH, mereka mampu membuat suasana makin liar. Sempat featuring dengan Mang Tri HUMAN AUTOPSY dan Gus Tiar dibeberapa lagu mereka. Setelah selesai membawakan daftar lagu yang dibawakan, saatnya band yang ditunggu – tunggu adalah POWER TRIP.

Headbangers mulai merapat lebih intim diarea pit sembari menunggu mereka menyelesaikan cek tata suara. Tata suara yang begitu apik dan aksi panggung yang liar, seperti kerasukan, tenaga headbangers tidak habis –habisnya untuk melakukan moshing. Enerjik adalah kata yang pas mewakili POWER TRIP. Stage diving yang terus menerus mengudara diarea pit, bergantian pada yang lain, cukup puas untuk menikmati konser musik keras. Kejadian yang tidak bisa dilupakan! Disesi terakhir mereka yang dimana bukan menjadi sesi akhir, headbangers menyuarakan “we one more…we one more… we one more”, dan iya, Riley Gale mengiyakan permintaan headbangers. Bahkan menambah dua lagu sebagai penutup aksi mereka. Acara berakhir dengan senang dan sukses! Semoga tahun depan Noisekleeng Vol.2 membawa band – band cadas lagi. Godspeed!

NOISEKLEENG VOL.1 (13 FEBRUARI 2020 – DONKEY SKATEPARK)

Bali adalah salah satu destinasi liburan yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan asing maupun lokal. Bukan hanya menikmati alamnya (walaupun sekarang sudah tidak indah lagi seperti diberitakan di google), tapi dari musik tradisional juga kita bisa nikmati. Selain musik tradisional yang aktif dikalangan sekaa banjar, musik modern pun menjadi konsentrasi anak muda sekarang. Dari pihak acara pun berhasil mendatangkan band – band berkualitas, salah satunya Maternal Disaster yang berhasil mendatangkan EYE HATE GOD tahun lalu. Kali ini dari NK 13 (Naskleng 13) berhasil mendatangkan POWER TRIP dengan nama acara Noisekleeng Vol.1.

Acara tersebut diselenggarakan di Donkey Skatepark dengan daftar band lokal berbahaya diantaranya JANGAR, BERSIMBAH DARAH dan NATTER JACK. Telat satu jam dari rundown awal yang telah dibuat, Baskara dari vokalis MORT sebagai MC mulai berorasi sebagai tanda mulainya acara.

Tepat pukul tujuh lewat sepuluh menit, penampilan pertama ada JANGAR membawakan nomor “MSG” sebagai pembuka aksi dan dilanjutkan beberapa nomor berbahaya lainnya yang ada di album ‘Jelang Malam’. Sebagai penutup aksi, mereka membawakan nomor “Konstan” sebagai penghormatan terhadap sahabat yang telah pergi selamanya. Setelah berhasil menghangatkan suasana pit di Donkey Skatepark, walaupun masih tampak sepi diarea pit, posisi mereka digantikan oleh BERSIMBAH DARAH. Unit grindcore ini membuat area pit semakin liar. Nomor “Land of Terror” di album Land of Terror sebagai puncak liarnya para headbangers. Hentakan blast beat dari Indra dan distorsi dari Rico Anarco, tidak menghentikan keliaran suasana pit. Sebagai nomor andalan, “Biawak” menjadi penutup aksi mereka.

Kemudian unit punk, NATTER JACK bersiap – siap untuk menunjukan aksinya. Tidak kalah dengan JANGAR dan BERSIMBAH DARAH, mereka mampu membuat suasana makin liar. Sempat featuring dengan Mang Tri HUMAN AUTOPSY dan Gus Tiar dibeberapa lagu mereka. Setelah selesai membawakan daftar lagu yang dibawakan, saatnya band yang ditunggu – tunggu adalah POWER TRIP.

Headbangers mulai merapat lebih intim diarea pit sembari menunggu mereka menyelesaikan cek tata suara. Tata suara yang begitu apik dan aksi panggung yang liar, seperti kerasukan, tenaga headbangers tidak habis –habisnya untuk melakukan moshing. Enerjik adalah kata yang pas mewakili POWER TRIP. Stage diving yang terus menerus mengudara diarea pit, bergantian pada yang lain, cukup puas untuk menikmati konser musik keras. Kejadian yang tidak bisa dilupakan! Disesi terakhir mereka yang dimana bukan menjadi sesi akhir, headbangers menyuarakan “we one more…we one more… we one more”, dan iya, Riley Gale mengiyakan permintaan headbangers. Bahkan menambah dua lagu sebagai penutup aksi mereka. Acara berakhir dengan senang dan sukses! Semoga tahun depan Noisekleeng Vol.2 membawa band – band cadas lagi. Godspeed!

Design a site like this with WordPress.com
Get started